Relawan Bakti BUMN Nias Selatan Batch VI: Mendorong Desa Wisata Hilisimaetanö yang Berkelanjutan

Relawan Bakti BUMN Nias Selatan Batch VI: Mendorong Desa Wisata Hilisimaetanö yang Berkelanjutan

Relawan Bakti BUMN Nias Selatan menjadi salah satu contoh pelaksanaan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang melibatkan berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan masyarakat. Program ini tidak hanya menghadirkan kegiatan sosial, tetapi juga mendorong pengembangan Desa Wisata Hilisimaetanö melalui peningkatan kualitas lingkungan, penguatan ekonomi masyarakat, serta pengembangan pendidikan. Dengan demikian, program mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

Program mengusung tema “Relawan Bakti BUMN untuk Kebangkitan Wisata Budaya Hilisimaetanö”. Melalui kolaborasi berbagai BUMN, masyarakat diajak untuk mengembangkan potensi desa sekaligus menjaga kekayaan budaya yang dimiliki. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembangunan desa dapat dilakukan melalui kerja sama yang melibatkan banyak pihak.

Desa Wisata Hilisimaetanö Memiliki Potensi Besar

Desa Hilisimaetanö dikenal sebagai salah satu desa adat di Kabupaten Nias Selatan yang memiliki rumah tradisional, budaya yang masih terjaga, serta potensi wisata yang menarik. Namun demikian, potensi tersebut perlu didukung dengan lingkungan yang tertata, sumber daya manusia yang siap, dan promosi yang berkelanjutan.

Oleh karena itu, Program Relawan Bakti BUMN menghadirkan berbagai kegiatan yang saling melengkapi. Kegiatan tersebut tidak hanya memperbaiki fasilitas desa, tetapi juga membantu masyarakat mengembangkan kemampuan dan peluang ekonomi.

Program Dilaksanakan secara Terpadu

Salah satu keunggulan Relawan Bakti BUMN Nias Selatan adalah pelaksanaan program yang dilakukan secara terpadu. Selain memberikan bantuan fisik, kegiatan ini juga mencakup pelatihan, pendampingan, serta penguatan kelembagaan masyarakat.

Sebagai ukuran keberhasilan, program memiliki 15 Key Performance Indicator (KPI) yang meliputi survei awal, pendampingan masyarakat, peningkatan kualitas lingkungan, dukungan pendidikan, pengembangan UMKM, promosi desa wisata, hingga penguatan BUMDes. Program tersebut dirancang agar setiap kegiatan saling mendukung dan menghasilkan manfaat jangka panjang.

Menjaga Lingkungan sebagai Daya Tarik Wisata

Lingkungan yang bersih dan nyaman menjadi salah satu syarat penting bagi pengembangan desa wisata. Karena itu, program memberikan perhatian khusus pada aspek lingkungan.

Berbagai kegiatan dilakukan, seperti penanaman 1.000 bibit tanaman produktif, pengelolaan sampah terpadu, penyediaan penerangan ramah lingkungan, serta pengecatan rumah warga. Selain memperindah kawasan, kegiatan tersebut juga meningkatkan kenyamanan masyarakat dan wisatawan yang berkunjung.

Pada akhirnya, lingkungan yang lebih baik diharapkan mampu meningkatkan daya tarik Desa Hilisimaetanö sebagai destinasi wisata budaya.

Mendukung Pendidikan dan Generasi Muda

Program ini juga memberikan perhatian pada dunia pendidikan. Melalui revitalisasi taman tematik sekolah, bantuan sarana pendidikan, dan edukasi lingkungan, para pelajar memperoleh ruang belajar yang lebih nyaman.

Selain itu, berbagai kegiatan bersama siswa bertujuan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada pengembangan kualitas sumber daya manusia.

Memperkuat UMKM Masyarakat

Sektor ekonomi menjadi bagian penting dalam Program Relawan Bakti BUMN Nias Selatan. Oleh sebab itu, berbagai bantuan diberikan kepada pelaku UMKM agar usaha mereka semakin berkembang.

Program menyediakan kemasan produk beras, peralatan kopi, dan perlengkapan sablon. Selanjutnya, bantuan tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas peluang pemasaran. Dengan demikian, masyarakat memiliki kesempatan memperoleh nilai tambah dari usaha yang mereka jalankan.

Memperkenalkan Desa Wisata kepada Masyarakat Luas

Promosi menjadi langkah penting dalam pengembangan desa wisata. Karena itu, program membangun papan branding Desa Wisata Hilisimaetanö sebagai identitas kawasan.

Selain membantu wisatawan mengenali lokasi, papan informasi tersebut juga memperkuat citra desa sebagai destinasi wisata budaya. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Pelatihan Konten Kreator untuk Promosi Digital

Perkembangan teknologi membuat promosi wisata semakin mudah dilakukan melalui media digital. Oleh karena itu, masyarakat memperoleh pelatihan sebagai konten kreator desa wisata.

Peserta belajar mengenai fotografi, videografi, dan pemanfaatan media sosial. Selanjutnya, kemampuan tersebut diharapkan dapat digunakan untuk mempromosikan Desa Hilisimaetanö secara lebih luas sehingga semakin banyak wisatawan yang mengenal potensi daerah tersebut.

Penguatan BUMDes melalui Digitalisasi

Selain mendukung promosi wisata, program juga memperkuat pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Melalui pelatihan manajemen dan bantuan perangkat digital, pengurus BUMDes memperoleh dukungan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Peralatan seperti website, laptop, proyektor, dan layar presentasi menjadi sarana pendukung dalam pengembangan organisasi desa. Dengan begitu, BUMDes memiliki peluang untuk berkembang menjadi penggerak ekonomi lokal.

Mendukung ESG dan Tujuan SDGs

Program ini juga mendukung penerapan Environmental, Social, and Governance (ESG).

  • Dari sisi Environmental, kegiatan penghijauan dan pengelolaan sampah membantu menjaga kualitas lingkungan.
  • Dari sisi Social, program meningkatkan kemampuan masyarakat, memperkuat UMKM, dan mendukung pendidikan.
  • Dari sisi Governance, penguatan BUMDes mendorong tata kelola organisasi desa yang lebih baik.

Selain itu, program ini berkontribusi terhadap beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain:

  • SDG 4 – Pendidikan Berkualitas
  • SDG 8 – Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
  • SDG 11 – Kota dan Permukiman Berkelanjutan
  • SDG 12 – Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab
  • SDG 13 – Penanganan Perubahan Iklim
  • SDG 17 – Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Referensi:

Perencanaan Menjadi Kunci Keberhasilan Program

Keberhasilan Relawan Bakti BUMN Nias Selatan menunjukkan bahwa Program CSR tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran. Sebaliknya, program yang berhasil selalu diawali dengan perencanaan yang matang dan pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat.

Sebelum program dijalankan, perusahaan perlu melakukan social mapping dan need assessment agar setiap kegiatan benar-benar sesuai dengan kondisi masyarakat.

Baca juga: Outcome vs Output dalam Program CSR dan TJSL
https://sinergiindonesia.co.id/outcome-vs-output-program-csr/

Baca juga: Social Mapping sebagai Fondasi Keberhasilan Program CSR dan TJSL
https://sinergiindonesia.co.id/social-mapping-csr-tjsl/

Baca juga: Need Assessment dalam Program CSR
https://sinergiindonesia.co.id/need-assessment-program-csr/

PT Sinergi Inta Waana Siap Mendukung Program CSR Berkelanjutan

Program CSR akan memberikan hasil yang lebih baik apabila dirancang berdasarkan data dan kebutuhan masyarakat. Untuk itu, PT Sinergi Inta Waana hadir sebagai mitra strategis bagi perusahaan dalam menyusun dan melaksanakan Program CSR maupun TJSL.

Layanan yang diberikan meliputi social mapping, need assessment, penyusunan masterplan CSR, implementasi program, monitoring, evaluasi, hingga pengukuran dampak sosial. Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat menjalankan program yang lebih terarah, terukur, dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Need Assessment dalam Program CSR: Pengertian, Tujuan, Metode, dan Contohnya

Need Assessment dalam Program CSR: Pengertian, Tujuan, Metode, dan Contohnya

Need Assessment Program CSR merupakan salah satu tahapan penting dalam menyusun Program Corporate Social Responsibility (CSR) dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Melalui proses ini, perusahaan dapat mengidentifikasi kebutuhan nyata masyarakat sebelum menentukan bentuk program yang akan dilaksanakan. Dengan demikian, setiap kegiatan menjadi lebih tepat sasaran, memberikan manfaat yang relevan, dan mampu menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan.

Sayangnya, masih banyak perusahaan yang langsung menjalankan program CSR tanpa melakukan analisis kebutuhan terlebih dahulu. Akibatnya, program sering kali tidak sesuai dengan kondisi masyarakat sehingga manfaatnya kurang optimal.

Apa Itu Need Assessment Program CSR?

Need Assessment Program CSR adalah proses sistematis untuk mengidentifikasi kebutuhan, masalah, potensi, dan prioritas masyarakat sebelum menyusun suatu program pemberdayaan.

Melalui proses ini, perusahaan memperoleh informasi yang akurat mengenai kondisi sosial, ekonomi, lingkungan, maupun kelembagaan masyarakat. Informasi tersebut kemudian menjadi dasar dalam menentukan jenis program CSR yang paling sesuai.

Dengan kata lain, Need Assessment membantu perusahaan memastikan bahwa program yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, bukan hanya berdasarkan asumsi perusahaan.

Mengapa Need Assessment Penting?

Need Assessment memiliki peran yang sangat penting dalam keberhasilan Program CSR dan TJSL.

Pertama, perusahaan dapat memahami kondisi masyarakat secara lebih objektif.

Kedua, program yang dirancang menjadi lebih efektif karena didasarkan pada kebutuhan nyata.

Ketiga, perusahaan dapat mengurangi risiko kegagalan program akibat kurangnya kesesuaian antara bantuan yang diberikan dengan kebutuhan masyarakat.

Selain itu, Need Assessment juga membantu meningkatkan partisipasi masyarakat karena mereka dilibatkan sejak tahap perencanaan.

Tujuan Need Assessment Program CSR

Secara umum, Need Assessment bertujuan untuk menghasilkan program yang tepat sasaran dan memberikan manfaat jangka panjang.

Beberapa tujuan utama Need Assessment meliputi:

  • mengidentifikasi kebutuhan masyarakat;
  • memetakan potensi wilayah;
  • mengetahui akar permasalahan sosial;
  • menentukan prioritas program;
  • mendukung penyusunan roadmap CSR;
  • meningkatkan efektivitas penggunaan anggaran;
  • mengurangi risiko program yang tidak berkelanjutan.

Dengan adanya proses tersebut, perusahaan dapat merancang program yang lebih terukur dan berdampak.

Tahapan Need Assessment Program CSR

Pelaksanaan Need Assessment umumnya dilakukan melalui beberapa tahapan berikut.

1. Identifikasi Wilayah

Tahap pertama adalah menentukan lokasi yang akan menjadi sasaran Program CSR.

Pada tahap ini, perusahaan mengumpulkan informasi awal mengenai kondisi wilayah, jumlah penduduk, karakteristik masyarakat, serta potensi yang dimiliki.

2. Pengumpulan Data

Selanjutnya, tim melakukan pengumpulan data melalui berbagai metode, seperti wawancara, observasi lapangan, Focus Group Discussion (FGD), dan penyebaran kuesioner.

Semakin lengkap data yang diperoleh, semakin baik kualitas analisis yang dihasilkan.

3. Analisis Kebutuhan

Setelah data terkumpul, langkah berikutnya adalah menganalisis berbagai kebutuhan masyarakat.

Analisis tidak hanya melihat masalah yang muncul, tetapi juga mencari akar penyebab serta potensi solusi yang dapat dikembangkan.

4. Menentukan Prioritas Program

Tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi sekaligus.

Oleh karena itu, perusahaan perlu menentukan prioritas berdasarkan tingkat urgensi, manfaat, serta kesesuaian dengan tujuan Program CSR.

5. Penyusunan Rekomendasi

Tahap terakhir adalah menyusun rekomendasi program yang akan menjadi dasar implementasi CSR maupun TJSL.

Rekomendasi tersebut biasanya memuat jenis program, target penerima manfaat, indikator keberhasilan, serta rencana pelaksanaan.

Metode Need Assessment Program CSR

Need Assessment dapat dilakukan menggunakan beberapa metode.

Di antaranya adalah:

  • observasi lapangan;
  • wawancara mendalam;
  • Focus Group Discussion (FGD);
  • survei masyarakat;
  • pemetaan sosial (social mapping);
  • studi dokumen;
  • analisis data sekunder.

Pemilihan metode bergantung pada tujuan program dan karakteristik wilayah yang menjadi sasaran.

Perbedaan Need Assessment dan Social Mapping

Banyak orang menganggap Need Assessment sama dengan Social Mapping. Padahal, keduanya memiliki fokus yang berbeda.

Need Assessment berfokus pada identifikasi kebutuhan masyarakat yang menjadi dasar penyusunan program.

Sementara itu, Social Mapping memiliki cakupan yang lebih luas karena memetakan kondisi sosial, potensi, aktor, hubungan antar pemangku kepentingan, serta karakteristik masyarakat secara menyeluruh.

Dengan demikian, Need Assessment sering menjadi bagian dari proses Social Mapping.

Baca juga: Social Mapping sebagai Fondasi Keberhasilan Program CSR dan TJSL
https://sinergiindonesia.co.id/social-mapping-csr-tjsl/

Contoh Need Assessment dalam Program CSR

Sebagai contoh, sebuah perusahaan ingin melaksanakan Program CSR di desa sekitar area operasional.

Sebelum menentukan jenis bantuan, perusahaan melakukan Need Assessment melalui survei dan wawancara dengan masyarakat.

Hasil analisis menunjukkan bahwa kebutuhan utama bukanlah bantuan sembako, melainkan peningkatan keterampilan usaha, akses pemasaran produk, dan pelatihan kewirausahaan.

Berdasarkan hasil tersebut, perusahaan kemudian merancang program pemberdayaan UMKM yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Pendekatan seperti ini memberikan peluang lebih besar untuk menghasilkan dampak sosial yang berkelanjutan.

Hubungan Need Assessment dengan Outcome Program CSR

Program yang disusun berdasarkan Need Assessment memiliki peluang lebih besar menghasilkan outcome dibandingkan program yang hanya berorientasi pada kegiatan.

Hal tersebut terjadi karena setiap intervensi dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat sehingga manfaatnya lebih mudah dirasakan oleh penerima program.

Oleh sebab itu, Need Assessment menjadi salah satu tahapan penting dalam menciptakan Program CSR yang efektif.

Baca juga: Outcome vs Output dalam Program CSR dan TJSL
https://sinergiindonesia.co.id/outcome-vs-output-program-csr/

Peran PT Sinergi Inta Waana dalam Need Assessment Program CSR

Need Assessment memerlukan metode yang tepat agar data yang diperoleh akurat dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Sebagai konsultan CSR dan TJSL, PT Sinergi Inta Waana mendampingi perusahaan dalam melaksanakan Need Assessment melalui survei lapangan, wawancara, Focus Group Discussion (FGD), analisis data, hingga penyusunan rekomendasi program.

Selain itu, PT Sinergi Inta Waana juga membantu perusahaan menyusun social mapping, roadmap CSR, monitoring, evaluasi, serta pengukuran dampak sosial sehingga setiap program memiliki manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Kesimpulan

Need Assessment Program CSR merupakan tahapan penting dalam merancang Program CSR dan TJSL yang tepat sasaran. Melalui proses identifikasi kebutuhan masyarakat, perusahaan dapat menyusun program yang lebih efektif, relevan, dan berkelanjutan.

Dengan mengombinasikan Need Assessment, Social Mapping, monitoring, dan evaluasi, perusahaan tidak hanya menghasilkan output berupa kegiatan, tetapi juga menciptakan outcome yang memberikan perubahan nyata bagi masyarakat.

Apabila perusahaan Anda ingin mengembangkan Program CSR, TJSL, ESG, maupun Community Development yang lebih terukur, PT Sinergi Inta Waana siap menjadi mitra strategis melalui layanan Need Assessment, Social Mapping, penyusunan roadmap CSR, implementasi program, monitoring, evaluasi, hingga pengukuran dampak sosial.

Jasa Konsultan Sustainability Report: Pendampingan Penyusunan Laporan Keberlanjutan Berbasis ESG

Jasa Konsultan Sustainability Report: Pendampingan Penyusunan Laporan Keberlanjutan Berbasis ESG

Jasa Konsultan Sustainability Report menjadi kebutuhan penting bagi perusahaan yang ingin menunjukkan komitmennya terhadap keberlanjutan, transparansi, dan tata kelola yang baik. Di tengah meningkatnya perhatian investor, regulator, pelanggan, dan masyarakat terhadap praktik bisnis berkelanjutan, penyusunan Sustainability Report bukan lagi sekadar dokumen pelengkap, melainkan bagian dari strategi perusahaan untuk membangun kepercayaan dan menciptakan nilai jangka panjang.

PT Sinergi Inta Waana hadir sebagai Jasa Konsultan Sustainability Report yang mendampingi perusahaan, BUMN, dan sektor swasta dalam menyusun laporan keberlanjutan berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG), GRI Standards, serta selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Pendampingan dilakukan secara menyeluruh mulai dari identifikasi isu material, pengumpulan data, analisis dampak, penyusunan laporan, hingga publikasi sehingga laporan yang dihasilkan memiliki kualitas tinggi, kredibel, dan memenuhi kebutuhan para pemangku kepentingan.


Mengapa Sustainability Report Penting bagi Perusahaan?

Saat ini, keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari kinerja finansial, tetapi juga dari dampak sosial, lingkungan, dan tata kelola yang dihasilkan. Oleh karena itu, Sustainability Report menjadi media komunikasi yang menunjukkan bagaimana perusahaan mengelola risiko, memanfaatkan peluang, dan menciptakan nilai secara berkelanjutan.

Melalui laporan keberlanjutan, perusahaan dapat menunjukkan komitmennya dalam menjalankan program CSR, TJSL, pengurangan emisi, efisiensi sumber daya, pemberdayaan masyarakat, perlindungan tenaga kerja, hingga tata kelola perusahaan yang transparan. Informasi tersebut menjadi dasar bagi investor, regulator, mitra bisnis, dan masyarakat untuk menilai kinerja keberlanjutan perusahaan.

Selain meningkatkan reputasi perusahaan, Sustainability Report juga membantu memperkuat implementasi ESG, meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan, serta mendukung daya saing perusahaan di tingkat nasional maupun global.


Apa Itu Sustainability Report?

Sustainability Report atau laporan keberlanjutan merupakan dokumen yang menjelaskan kinerja perusahaan pada aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan selama periode tertentu. Laporan ini menyajikan informasi mengenai strategi keberlanjutan, kebijakan, program, indikator kinerja, serta dampak yang dihasilkan dari aktivitas perusahaan.

Penyusunan Sustainability Report memberikan manfaat, antara lain:

  • meningkatkan transparansi perusahaan;
  • memperkuat kepercayaan investor dan pemangku kepentingan;
  • mendukung implementasi ESG;
  • mengukur dampak program CSR dan TJSL;
  • membantu perusahaan mengidentifikasi peluang perbaikan berkelanjutan;
  • memperkuat reputasi dan citra perusahaan.

Dengan pendampingan Jasa Konsultan Sustainability Report, proses penyusunan laporan menjadi lebih sistematis, akurat, dan sesuai dengan standar yang berlaku.


Standar Penyusunan Sustainability Report

Penyusunan Sustainability Report sebaiknya mengacu pada standar yang diakui secara internasional agar informasi yang disampaikan dapat dibandingkan dan dipercaya oleh para pemangku kepentingan.

Beberapa standar yang umum digunakan meliputi:

  • GRI Standards sebagai pedoman pelaporan keberlanjutan yang banyak digunakan di dunia.
  • IFRS Sustainability Disclosure Standards untuk pelaporan informasi keberlanjutan yang relevan bagi investor.
  • Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai acuan kontribusi perusahaan terhadap pembangunan berkelanjutan.
  • Prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai kerangka pengelolaan keberlanjutan perusahaan.

PT Sinergi Inta Waana membantu perusahaan memilih standar yang sesuai dengan karakteristik bisnis dan kebutuhan pelaporan sehingga Sustainability Report memiliki kualitas yang baik dan mudah dipahami.


Tahapan Pendampingan Jasa Konsultan Sustainability Report

1. Identifikasi Kebutuhan Perusahaan

Tahapan awal dilakukan melalui diskusi bersama manajemen untuk memahami tujuan penyusunan Sustainability Report, ruang lingkup pelaporan, serta kebutuhan para pemangku kepentingan.


2. Social Mapping dan Analisis Materialitas

Pendampingan dilanjutkan dengan Social Mapping guna mengidentifikasi kondisi sosial, karakteristik wilayah, kebutuhan masyarakat, serta isu-isu yang memiliki dampak signifikan terhadap perusahaan.

Hasil pemetaan tersebut menjadi dasar dalam penyusunan analisis materialitas sehingga laporan benar-benar mencerminkan isu yang paling relevan.

Pelajari lebih lanjut mengenai layanan Social Mapping PT Sinergi Inta Waana di:
https://sinergiindonesia.co.id/social-mapping


3. Pengumpulan Data ESG

Selanjutnya dilakukan pengumpulan data dari berbagai unit kerja yang mencakup aspek:

  • Environmental
  • Social
  • Governance
  • Program CSR
  • Program TJSL
  • Kinerja SDM
  • Keselamatan dan Kesehatan Kerja
  • Efisiensi energi
  • Pengelolaan limbah
  • Emisi
  • Pemberdayaan masyarakat

Data yang akurat menjadi fondasi utama dalam menghasilkan Sustainability Report yang kredibel.


4. Penyusunan Theory of Change

Agar dampak program dapat dijelaskan secara sistematis, PT Sinergi Inta Waana menyusun Theory of Change yang menggambarkan hubungan antara input, aktivitas, output, outcome, hingga dampak jangka panjang.

Informasi mengenai layanan Theory of Change dapat dilihat pada:

https://sinergiindonesia.co.id/theory-of-change


5. Monitoring dan Evaluation

Seluruh data kemudian dianalisis melalui proses Monitoring & Evaluation untuk mengukur efektivitas program serta pencapaian indikator keberhasilan.

Monitoring yang baik membantu perusahaan memperoleh informasi yang akurat mengenai dampak sosial, ekonomi, maupun lingkungan.

Informasi selengkapnya tersedia pada:

https://sinergiindonesia.co.id/monitoring-dan-evaluasi-csr


6. Pengukuran Dampak Menggunakan SROI

Bila diperlukan, perusahaan juga dapat melakukan pengukuran manfaat ekonomi melalui pendekatan Social Return on Investment (SROI) sehingga nilai manfaat sosial dapat dihitung secara kuantitatif.

Pelajari layanan SROI melalui:

https://sinergiindonesia.co.id/sroi-social-return-on-investment


7. Penyusunan Sustainability Report

Tahapan berikutnya adalah penyusunan laporan keberlanjutan yang memuat profil perusahaan, tata kelola, strategi ESG, indikator kinerja, pencapaian program, hingga rencana keberlanjutan pada periode berikutnya.

Seluruh informasi disusun secara sistematis sehingga mudah dipahami oleh regulator, investor, mitra bisnis, maupun masyarakat.


Mengapa Memilih PT Sinergi Inta Waana sebagai Jasa Konsultan Sustainability Report?

PT Sinergi Inta Waana memiliki pengalaman dalam mendampingi berbagai program CSR dan TJSL sehingga memahami kebutuhan perusahaan dalam menyusun laporan keberlanjutan yang tidak hanya memenuhi standar pelaporan, tetapi juga menggambarkan dampak nyata bagi masyarakat.

Keunggulan layanan meliputi:

  • Pendekatan berbasis data.
  • Tim berpengalaman di bidang CSR, TJSL, ESG, dan SDGs.
  • Pendampingan dari awal hingga publikasi.
  • Integrasi Social Mapping, Theory of Change, Monitoring & Evaluation, dan SROI.
  • Penyusunan laporan sesuai GRI Standards.
  • Visualisasi data yang informatif.
  • Fokus pada dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Selain layanan Sustainability Report, PT Sinergi Inta Waana juga menyediakan Jasa Konsultan TJSL BUMN untuk membantu perusahaan merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi program CSR secara berkelanjutan.

Informasi selengkapnya dapat dilihat di:

https://sinergiindonesia.co.id/jasa-konsultan-tjsl-bumn


Sustainability Report Mendukung Implementasi ESG

Sustainability Report merupakan salah satu instrumen penting dalam penerapan ESG karena memberikan gambaran mengenai bagaimana perusahaan mengelola dampak lingkungan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menerapkan tata kelola yang baik.

Dengan laporan yang disusun secara profesional, perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan investor, memperkuat hubungan dengan pemangku kepentingan, serta menunjukkan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan.

Sebagai referensi internasional, perusahaan dapat mengacu pada:

GRI Standards:
https://www.globalreporting.org/

IFRS Sustainability:
https://www.ifrs.org/

Sustainable Development Goals Indonesia:
https://sdgs.bappenas.go.id/


Kesimpulan

Penyusunan Sustainability Report bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pelaporan, tetapi juga menjadi strategi perusahaan dalam membangun transparansi, meningkatkan reputasi, dan memperkuat implementasi ESG.

Melalui Jasa Konsultan Sustainability Report, PT Sinergi Inta Waana mendampingi perusahaan mulai dari identifikasi kebutuhan, Social Mapping, analisis materialitas, pengumpulan data ESG, Monitoring & Evaluation, Theory of Change, pengukuran SROI, hingga penyusunan laporan yang selaras dengan GRI Standards dan SDGs.

Dengan pendekatan yang sistematis dan berbasis data, PT Sinergi Inta Waana membantu perusahaan menghasilkan Sustainability Report yang kredibel, relevan, dan mampu menunjukkan dampak sosial, ekonomi, serta lingkungan secara terukur. Bagi perusahaan yang ingin meningkatkan kualitas pelaporan keberlanjutan sekaligus memperkuat implementasi ESG, pendampingan dari konsultan yang berpengalaman menjadi langkah strategis untuk menciptakan nilai jangka panjang.

Jasa Konsultan TJSL BUMN: Pendampingan Perencanaan hingga Evaluasi Program CSR Berkelanjutan

Jasa Konsultan TJSL BUMN: Pendampingan Perencanaan hingga Evaluasi Program CSR Berkelanjutan

Di era bisnis berkelanjutan, Jasa Konsultan TJSL BUMN menjadi kebutuhan penting bagi perusahaan yang ingin menjalankan Program TJSL BUMN secara efektif, terukur, dan berkelanjutan. Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) tidak lagi dipandang sebagai kegiatan sosial semata, tetapi telah berkembang menjadi investasi jangka panjang yang mampu menciptakan nilai bagi masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan bisnis.

Agar Program TJSL BUMN memberikan dampak nyata, perusahaan memerlukan proses yang sistematis mulai dari Social Mapping CSR, penyusunan roadmap, implementasi program, pendampingan masyarakat, monitoring, hingga evaluasi berbasis data. Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat memastikan bahwa setiap program selaras dengan kebutuhan masyarakat serta mendukung strategi bisnis jangka panjang.

Sebagai Jasa Konsultan CSR dan TJSL BUMN, PT Sinergi Inta Waana hadir sebagai mitra strategis perusahaan dalam merancang, melaksanakan, mendampingi, dan mengevaluasi program berbasis data. Seluruh layanan dirancang agar sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), Sustainable Development Goals (SDGs), ISO 26000, serta standar pelaporan Global Reporting Initiative (GRI).


Mengapa Perusahaan Membutuhkan Jasa Konsultan TJSL BUMN?

Keberhasilan Program TJSL BUMN tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga oleh kualitas perencanaan dan strategi implementasi. Setiap daerah memiliki karakteristik sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.

Tanpa perencanaan yang matang, perusahaan berpotensi menghadapi berbagai tantangan, seperti:

  • Program tidak sesuai kebutuhan masyarakat.
  • Bantuan tidak dimanfaatkan secara optimal.
  • Sulit mengukur dampak sosial.
  • Terjadi tumpang tindih dengan program pemerintah.
  • Partisipasi masyarakat rendah.
  • Program berhenti setelah bantuan selesai diberikan.

Melalui Jasa Konsultan TJSL BUMN, perusahaan memperoleh pendampingan profesional agar setiap tahapan program berjalan secara efektif, efisien, dan menghasilkan dampak sosial yang berkelanjutan.


Layanan Jasa Konsultan TJSL BUMN PT Sinergi Inta Waana

PT Sinergi Inta Waana memberikan layanan pendampingan end-to-end mulai dari tahap perencanaan hingga evaluasi Program TJSL BUMN.

1. Social Mapping CSR

Tahapan pertama adalah melakukan Social Mapping CSR untuk memahami kondisi masyarakat secara menyeluruh sebelum program dilaksanakan.

Kegiatan ini meliputi:

  • Identifikasi potensi wilayah.
  • Analisis kebutuhan masyarakat.
  • Pemetaan pemangku kepentingan.
  • Analisis risiko sosial.
  • Identifikasi peluang pemberdayaan.
  • Analisis potensi ekonomi lokal.

Hasil Social Mapping CSR menjadi dasar dalam menentukan program yang tepat sasaran, berkelanjutan, dan mampu memberikan dampak sosial yang optimal.


2. Penyusunan Masterplan dan Roadmap Program TJSL BUMN

Roadmap menjadi pedoman perusahaan dalam menjalankan program secara berkelanjutan.

PT Sinergi Inta Waana membantu menyusun:

  • Masterplan TJSL.
  • Roadmap Program TJSL BUMN 3–5 tahun.
  • Strategi pemberdayaan masyarakat.
  • Integrasi dengan target SDGs.
  • Integrasi dengan strategi ESG perusahaan.
  • Indikator keberhasilan program.

Roadmap membantu perusahaan mengoptimalkan anggaran serta menjaga kesinambungan program setiap tahunnya.


3. Perancangan Program CSR dan TJSL

Setelah kebutuhan masyarakat dipahami, tahap berikutnya adalah menyusun desain program berbasis data.

Program yang dapat dikembangkan meliputi:

  • Pemberdayaan UMKM.
  • Ketahanan pangan.
  • Pengelolaan sampah.
  • Konservasi lingkungan.
  • Pendidikan.
  • Kesehatan masyarakat.
  • Desa wisata.
  • Energi terbarukan.
  • Pertanian berkelanjutan.
  • Penguatan ekonomi lokal.

Setiap program dirancang menggunakan pendekatan partisipatif sehingga masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan.


4. Implementasi dan Pendampingan Program

Keberhasilan Program TJSL BUMN tidak berhenti pada penyaluran bantuan.

PT Sinergi Inta Waana memberikan pendampingan melalui:

  • Pelaksanaan program.
  • Penguatan kelembagaan masyarakat.
  • Pelatihan kapasitas.
  • Monitoring lapangan.
  • Pendampingan UMKM.
  • Pengembangan akses pasar.
  • Kemitraan multipihak.

Pendekatan tersebut memastikan program dapat berjalan secara mandiri setelah masa pendampingan berakhir.


5. Monitoring dan Evaluasi Program TJSL BUMN

Monitoring dan evaluasi dilakukan menggunakan indikator berbasis dampak.

Beberapa indikator yang diukur meliputi:

  • Perubahan kondisi masyarakat.
  • Peningkatan pendapatan.
  • Pertumbuhan kapasitas kelompok.
  • Efektivitas penggunaan anggaran.
  • Keberlanjutan program.
  • Dampak sosial dan lingkungan.

Hasil evaluasi menjadi dasar penyempurnaan Program TJSL BUMN pada periode berikutnya.


6. Penyusunan Sustainability Report dan Laporan TJSL

Pelaporan menjadi bagian penting dalam tata kelola perusahaan.

PT Sinergi Inta Waana membantu penyusunan:

  • Laporan TJSL.
  • Sustainability Report.
  • Laporan Monitoring dan Evaluasi.
  • Laporan Dampak Sosial.
  • Executive Summary.
  • Dokumentasi Program.

Penyusunan Sustainability Report mengacu pada standar Global Reporting Initiative (GRI) sehingga informasi yang disajikan lebih sistematis, transparan, dan mudah dipahami oleh para pemangku kepentingan.


Pendekatan Berbasis ESG, SDGs, ISO 26000, dan Global Reporting Initiative

Saat ini perusahaan dituntut untuk menjalankan program yang tidak hanya memberikan manfaat sosial, tetapi juga mendukung keberlanjutan bisnis.

PT Sinergi Inta Waana memastikan setiap Program TJSL BUMN disusun dengan mengacu pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), menerapkan panduan ISO 26000 mengenai tanggung jawab sosial, serta memudahkan perusahaan dalam menyusun Sustainability Report berdasarkan standar Global Reporting Initiative (GRI).

Pendekatan tersebut membantu perusahaan meningkatkan akuntabilitas, transparansi, dan kualitas pelaporan keberlanjutan.


Mengapa Memilih PT Sinergi Inta Waana?

Sebagai Jasa Konsultan TJSL BUMN, PT Sinergi Inta Waana memiliki pengalaman mendampingi berbagai perusahaan dalam merancang dan melaksanakan Program TJSL BUMN yang berdampak.

Keunggulan layanan kami meliputi:

  • Pendampingan dari perencanaan hingga evaluasi.
  • Kajian Social Mapping CSR berbasis data.
  • Penyusunan roadmap jangka panjang.
  • Integrasi dengan ESG, SDGs, dan ISO 26000.
  • Penyusunan Sustainability Report sesuai standar Global Reporting Initiative (GRI).
  • Monitoring dan evaluasi berbasis indikator dampak.
  • Pendampingan implementasi di lapangan.
  • Tim multidisiplin yang berpengalaman.

Kesimpulan

Keberhasilan Program TJSL BUMN tidak dibangun melalui kegiatan sesaat, melainkan melalui proses yang terencana, terukur, dan berkelanjutan. Mulai dari Social Mapping CSR, penyusunan roadmap, implementasi, monitoring, evaluasi, hingga penyusunan Sustainability Report, setiap tahapan membutuhkan pendekatan yang sistematis agar menghasilkan dampak sosial yang nyata.

Sebagai Jasa Konsultan TJSL BUMN, PT Sinergi Inta Waana siap menjadi mitra strategis perusahaan dalam merancang dan mengelola program CSR serta TJSL secara menyeluruh. Dengan pendekatan yang mengacu pada ESG, SDGs, ISO 26000, dan standar Global Reporting Initiative (GRI), kami membantu perusahaan menghadirkan program yang tepat sasaran, memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat, serta memperkuat reputasi dan keberlanjutan bisnis.

 

Program Kampung BETTER AirNav Banjarbaru: Pemasangan Listrik 900 kWh untuk Mendukung Pertanian Terpadu Berkelanjutan

Program Kampung BETTER AirNav Banjarbaru: Pemasangan Listrik 900 kWh untuk Mendukung Pertanian Terpadu Berkelanjutan

Pemasangan Listrik 900 kWh Menjadi Infrastruktur Strategis Program Kampung BETTER AirNav Banjarbaru

Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Dalam sektor pertanian terpadu (integrated farming), keberadaan listrik menjadi kebutuhan utama untuk menunjang operasional berbagai fasilitas, mulai dari greenhouse, sistem pengairan, hingga penggunaan peralatan pertanian modern.

Melalui Program Kampung BETTER AirNav Banjarbaru, AirNav Indonesia menghadirkan pemasangan listrik 900 kWh sebagai bagian dari pengadaan sarana dan prasarana program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Program ini dirancang untuk mendukung produktivitas masyarakat sekaligus mendorong penerapan sistem pertanian terpadu yang efisien, modern, dan berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, program ini didampingi oleh PT Sinergi Inta Waana sebagai jasa konsultan CSR dan TJSL BUMN, yang berperan dalam penyusunan program, pendampingan implementasi, monitoring, evaluasi, hingga penyusunan laporan keberlanjutan. Kolaborasi ini memastikan setiap kegiatan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menghasilkan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan sesuai prinsip ESG dan kebijakan TJSL BUMN.


Infrastruktur Kelistrikan sebagai Penunjang Integrated Farming

Konsep Integrated Farming menggabungkan berbagai aktivitas pertanian, peternakan, dan pengelolaan sumber daya dalam satu sistem yang saling terintegrasi. Agar seluruh sistem dapat berjalan secara optimal, diperlukan dukungan infrastruktur dasar yang memadai, salah satunya adalah jaringan listrik.

Listrik menjadi sumber energi utama yang mendukung operasional berbagai fasilitas, seperti:

  • greenhouse hidroponik;
  • sistem irigasi dan pompa air;
  • penerangan kawasan;
  • peralatan pengolahan pakan ternak;
  • aktivitas operasional pertanian lainnya.

Dengan tersedianya pasokan listrik yang stabil, seluruh kegiatan budidaya dapat berjalan lebih efisien dan produktif.


Realisasi Pemasangan Listrik 900 kWh

Sebagai bagian dari pengadaan sarana dan prasarana Program Kampung BETTER AirNav Banjarbaru, telah dilakukan pemasangan jaringan listrik dengan kapasitas 900 kWh.

Realisasi pekerjaan meliputi:

  • instalasi sistem kelistrikan;
  • pemasangan lampu penerangan;
  • pemasangan kabel listrik sepanjang 150 meter;
  • distribusi jaringan listrik menuju area operasional program.

Pembangunan infrastruktur tersebut bertujuan memastikan seluruh fasilitas memperoleh suplai listrik yang memadai sehingga mampu mendukung berbagai aktivitas pertanian terpadu secara optimal.


Mendukung Operasional Greenhouse dan Hidroponik

Greenhouse merupakan salah satu fasilitas utama yang dikembangkan dalam Program Kampung BETTER AirNav Banjarbaru. Di dalamnya terdapat sistem hidroponik NFT, instalasi drip system, meja persemaian, serta berbagai sarana produksi yang membutuhkan pasokan listrik secara berkelanjutan.

Keberadaan listrik memungkinkan berbagai sistem tersebut beroperasi dengan baik sehingga proses budidaya tanaman menjadi lebih efektif dan efisien. Selain meningkatkan produktivitas, kondisi ini juga mendukung penerapan pertanian modern yang lebih ramah lingkungan.


Menunjang Sistem Pengairan Terpadu

Selain greenhouse, jaringan listrik juga mendukung operasional sistem pengairan yang menjadi komponen penting dalam pertanian terpadu.

Air berasal dari sumur gali yang kemudian didistribusikan menggunakan instalasi perpipaan dan mesin pompa menuju area budidaya tanaman. Dengan dukungan listrik yang stabil, kebutuhan air tanaman dapat dipenuhi secara tepat waktu sehingga pertumbuhan tanaman berlangsung lebih optimal.


Meningkatkan Efisiensi Operasional Program

Penyediaan listrik 900 kWh memberikan manfaat langsung terhadap peningkatan efisiensi kegiatan di lapangan.

Berbagai peralatan yang memanfaatkan energi listrik antara lain:

  • mesin pompa air;
  • mesin pencacah pakan dan pupuk;
  • sistem penerangan kawasan;
  • peralatan operasional pertanian lainnya.

Dengan dukungan tersebut, proses kerja menjadi lebih cepat, biaya operasional lebih efisien, dan produktivitas masyarakat meningkat secara signifikan.


Kolaborasi AirNav Indonesia dan PT Sinergi Inta Waana dalam Membangun Dampak Berkelanjutan

Keberhasilan Program Kampung BETTER AirNav Banjarbaru tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh proses perencanaan dan pendampingan yang terstruktur.

Sebagai konsultan CSR, TJSL BUMN, dan SDGs, PT Sinergi Inta Waana berperan mendampingi AirNav Indonesia dalam memastikan setiap tahapan program berjalan sesuai kebutuhan masyarakat dan selaras dengan Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-5/MBU/04/2021 tentang Program TJSL BUMN. Pendekatan tersebut mencakup identifikasi kebutuhan masyarakat, penyusunan desain program, implementasi kegiatan, monitoring, evaluasi, hingga penyusunan laporan akhir program.

Melalui kolaborasi tersebut, pembangunan infrastruktur seperti pemasangan listrik tidak hanya menjadi bantuan fisik, tetapi juga menjadi investasi sosial yang mampu meningkatkan produktivitas masyarakat dalam jangka panjang.


Dampak Positif bagi Masyarakat

Pemasangan listrik 900 kWh memberikan berbagai manfaat nyata bagi kelompok tani dan masyarakat sekitar, di antaranya:

  • meningkatkan produktivitas pertanian;
  • mendukung operasional greenhouse dan peternakan;
  • memperlancar sistem pengairan;
  • meningkatkan keamanan melalui penerangan kawasan;
  • mengoptimalkan penggunaan teknologi pertanian;
  • memperkuat keberlanjutan Program Kampung BETTER AirNav Banjarbaru.

Infrastruktur kelistrikan tersebut menjadi fondasi penting dalam menciptakan kawasan pertanian terpadu yang produktif, efisien, dan berdaya saing.


Penutup

Pemasangan listrik 900 kWh merupakan salah satu infrastruktur strategis dalam Program Kampung BETTER AirNav Banjarbaru yang mendukung operasional pertanian terpadu secara berkelanjutan. Melalui penyediaan instalasi listrik, lampu penerangan, dan jaringan kabel sepanjang 150 meter, AirNav Indonesia menghadirkan fasilitas yang mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat produktivitas masyarakat.

Keberhasilan program ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perusahaan dan mitra pelaksana yang memiliki kompetensi dalam pengembangan program sosial. Sebagai jasa konsultan CSR, TJSL BUMN, ESG, Social Mapping, Monitoring dan Evaluasi, SROI, serta Sustainability Reporting, PT Sinergi Inta Waana berkomitmen mendampingi perusahaan dalam merancang dan mengimplementasikan program pemberdayaan masyarakat yang memberikan dampak nyata, terukur, dan berkelanjutan.

 

Pembangunan Kandang Ternak melalui Program TJSL AirNav Banjarbaru untuk Mendukung Peternakan Berkelanjutan

Pembangunan Kandang Ternak melalui Program TJSL AirNav Banjarbaru untuk Mendukung Peternakan Berkelanjutan

Pembangunan Kandang Ternak Menjadi Fondasi Program Integrated Farming

Pembangunan kandang ternak merupakan salah satu langkah strategis dalam mewujudkan sistem peternakan yang produktif, sehat, dan berkelanjutan. Dalam Program Kampung BETTER AirNav Banjarbaru Tahun 2024, pembangunan Livestock House menjadi bagian penting dari pengembangan integrated farming yang menghubungkan sektor pertanian dan peternakan dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Program ini merupakan implementasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) AirNav Indonesia yang bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat melalui penyediaan sarana dan prasarana pertanian terpadu. Pembangunan kandang ternak menjadi salah satu komponen utama untuk menciptakan sistem budidaya yang lebih efisien, meningkatkan produktivitas ternak, sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

PT Sinergi Inta Waana sebagai Konsultan CSR dan TJSL BUMN

Keberhasilan sebuah program TJSL tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh proses perencanaan, pendampingan, dan evaluasi yang dilakukan secara terukur. Dalam Program Kampung BETTER AirNav Banjarbaru, PT Sinergi Inta Waana berperan sebagai jasa konsultan CSR dan TJSL BUMN yang mendampingi pelaksanaan program mulai dari tahap perencanaan hingga monitoring dan evaluasi.

Pendampingan tersebut mencakup identifikasi kebutuhan masyarakat, penyusunan konsep program berbasis integrated farming, pengadaan sarana dan prasarana, koordinasi dengan para pemangku kepentingan, hingga pengukuran keberhasilan program. Pendekatan ini memastikan bahwa pembangunan yang dilakukan tidak hanya menghasilkan infrastruktur, tetapi juga memberikan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan.

Mengapa Pembangunan Kandang Ternak Penting?

Dalam sistem pertanian terpadu, peternakan memiliki peran yang sangat penting karena mampu mendukung produktivitas sektor pertanian. Limbah ternak dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik, sedangkan hasil pertanian dapat menjadi sumber pakan ternak. Hubungan tersebut menciptakan siklus produksi yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Melalui pembangunan kandang ternak yang layak, masyarakat memperoleh fasilitas yang mampu meningkatkan kualitas pemeliharaan ternak sekaligus mengurangi berbagai risiko yang selama ini dihadapi, seperti cuaca ekstrem, serangan predator, maupun penyakit akibat lingkungan yang kurang higienis.

Tujuan Pembangunan Livestock House

Pembangunan Livestock House dilaksanakan untuk menyediakan tempat pemeliharaan ternak yang memenuhi standar keamanan dan kenyamanan. Program ini memiliki beberapa tujuan utama, yaitu:

  • menyediakan tempat tinggal yang aman dan nyaman bagi hewan ternak;
  • melindungi ternak dari hujan, panas, angin kencang, predator, dan risiko penyakit;
  • menciptakan lingkungan pemeliharaan yang sehat sehingga produktivitas ternak meningkat;
  • mendukung pengembangan usaha peternakan masyarakat secara berkelanjutan;
  • memperkuat sistem integrated farming sebagai model pemberdayaan masyarakat.

Spesifikasi Pembangunan Kandang Ternak

Livestock House dibangun dengan mempertimbangkan aspek teknis dan kenyamanan ternak sehingga mampu menunjang kegiatan peternakan dalam jangka panjang.

SpesifikasiKeterangan
Lebar5 meter
Panjang8 meter
SistemKandang panggung
Tinggi panggung1 meter

Model kandang panggung dipilih karena mampu meningkatkan sirkulasi udara, menjaga kebersihan area pemeliharaan, mengurangi kelembapan, serta meminimalkan risiko penyebaran penyakit. Selain itu, desain ini memudahkan proses pembersihan sehingga aktivitas pemeliharaan menjadi lebih efisien.

Tahapan Pembangunan Kandang Ternak

Pembangunan kandang dilakukan secara bertahap agar menghasilkan bangunan yang kokoh dan sesuai dengan kebutuhan operasional peternakan.

Persiapan Lokasi

Tahap awal dimulai dengan pembersihan serta pemerataan lahan untuk memastikan pondasi bangunan memiliki tingkat kestabilan yang baik.

Konstruksi Rangka

Kerangka utama kandang dipasang menggunakan material berkualitas sehingga mampu bertahan terhadap berbagai kondisi cuaca dan mendukung keamanan ternak.

Pemasangan Sistem Panggung

Panggung setinggi satu meter dipasang untuk meningkatkan sirkulasi udara di dalam kandang sekaligus mengurangi kelembapan yang dapat memicu munculnya penyakit.

Pemasangan Atap dan Dinding

Atap dan dinding pelindung dipasang untuk melindungi ternak dari hujan, paparan sinar matahari, maupun angin kencang sehingga kondisi kandang tetap nyaman sepanjang waktu.

Progress Pembangunan dari 0 Persen hingga 100 Persen

Pelaksanaan pembangunan berlangsung secara bertahap dengan progres yang terdokumentasi mulai dari kondisi awal hingga pembangunan selesai sepenuhnya.
Tahapan tersebut meliputi:

  • Sebelum Pembangunan (0%)
  • Progress pembangunan 15%
  • Progress pembangunan 45%
  • Progress pembangunan 50%
  • Progress pembangunan 85%
  • Progress pembangunan 100%

Tahapan progres ini menunjukkan bahwa pembangunan dilakukan secara sistematis dengan memperhatikan kualitas konstruksi pada setiap tahap pekerjaan.

Pengadaan Bibit Kambing sebagai Tahap Lanjutan

Setelah pembangunan kandang selesai, program dilanjutkan dengan pengadaan bibit kambing berkualitas sebagai langkah awal pengembangan populasi ternak.

Sebanyak 8 ekor kambing betina dan 2 ekor kambing jantan ditempatkan di Livestock House setelah melalui proses seleksi kualitas genetik. Komposisi tersebut dirancang untuk mendukung proses pengembangbiakan sehingga populasi ternak dapat berkembang secara optimal.

Selanjutnya, dilakukan pemeliharaan rutin melalui pemberian pakan berkualitas, pemantauan kesehatan, pengawasan proses reproduksi, serta evaluasi berkala untuk memastikan pertumbuhan ternak berjalan sesuai target program.

Dampak Pembangunan Kandang Ternak bagi Masyarakat

Pembangunan kandang ternak memberikan manfaat yang lebih luas dibandingkan sekadar penyediaan fasilitas peternakan. Program ini menjadi bagian dari strategi pemberdayaan masyarakat yang mendorong peningkatan kapasitas ekonomi lokal melalui usaha peternakan yang lebih produktif.

Beberapa manfaat yang diharapkan antara lain:

  • meningkatkan kualitas pemeliharaan ternak;
  • mengurangi risiko penyakit dan kematian ternak;
  • meningkatkan produktivitas peternakan masyarakat;
  • mendukung penyediaan pupuk organik bagi sektor pertanian;
  • memperkuat ketahanan pangan lokal;
  • meningkatkan peluang pendapatan masyarakat melalui usaha peternakan.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pembangunan infrastruktur dalam program TJSL dapat memberikan dampak berkelanjutan apabila dirancang sebagai bagian dari sistem pemberdayaan masyarakat yang terintegrasi.

PT Sinergi Inta Waana Siap Mendampingi Program CSR dan TJSL Perusahaan

Sebagai jasa konsultan CSR dan TJSL BUMN, PT Sinergi Inta Waana memiliki pengalaman dalam merancang dan mendampingi berbagai program pemberdayaan masyarakat di seluruh Indonesia. Pendampingan dilakukan secara komprehensif mulai dari social mapping, penyusunan roadmap TJSL, desain program berbasis kebutuhan masyarakat, implementasi kegiatan, monitoring dan evaluasi, hingga penyusunan Sustainability Report serta pengukuran dampak sosial (Social Return on Investment/SROI).

Dengan pendekatan yang mengacu pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), ISO 26000, serta Sustainable Development Goals (SDGs), PT Sinergi Inta Waana berkomitmen membantu perusahaan menghadirkan program CSR dan TJSL yang tidak hanya memenuhi kewajiban perusahaan, tetapi juga menciptakan dampak sosial yang nyata, terukur, dan berkelanjutan.

Kesimpulan

Pembangunan kandang ternak dalam Program Kampung BETTER AirNav Banjarbaru menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur merupakan langkah awal untuk membangun sistem peternakan yang lebih modern dan berkelanjutan. Dukungan fasilitas yang memadai, pengadaan bibit ternak berkualitas, serta pendampingan yang berkelanjutan menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas peternakan sekaligus kesejahteraan masyarakat.

Melalui kolaborasi antara AirNav Indonesia dan PT Sinergi Inta Waana sebagai konsultan CSR dan TJSL BUMN, program ini berhasil menghadirkan model pemberdayaan masyarakat berbasis integrated farming yang mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Model seperti ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi perusahaan lain dalam mengembangkan program CSR dan TJSL yang berorientasi pada dampak jangka panjang.

ISO 26000 vs GRI vs SDGs: Apa Perbedaannya dalam Program CSR dan TJSL?

ISO 26000 vs GRI vs SDGs: Apa Perbedaannya dalam Program CSR dan TJSL?

ISO 26000 vs GRI vs SDGs merupakan topik yang sering dibahas dalam implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Ketiga kerangka tersebut sama-sama mendukung pembangunan berkelanjutan, tetapi memiliki fungsi dan tujuan yang berbeda.

Masih banyak perusahaan yang menganggap ISO 26000, Global Reporting Initiative (GRI), dan Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai standar yang sama. Padahal, masing-masing memiliki peran yang saling melengkapi. Dengan memahami perbedaannya, perusahaan dapat merancang, melaksanakan, dan melaporkan program CSR secara lebih terarah dan berdampak.

Apa Itu ISO 26000?

ISO 26000 adalah standar internasional yang memberikan panduan mengenai tanggung jawab sosial organisasi. Berbeda dengan standar ISO lainnya, ISO 26000 tidak digunakan untuk sertifikasi, melainkan sebagai pedoman dalam menerapkan praktik tanggung jawab sosial yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

ISO 26000 diterbitkan oleh International Organization for Standardization (ISO) dan mencakup tujuh subjek inti, yaitu:

  • Tata kelola organisasi.
  • Hak asasi manusia.
  • Praktik ketenagakerjaan.
  • Lingkungan.
  • Praktik operasi yang adil.
  • Isu konsumen.
  • Pelibatan dan pengembangan masyarakat.

Melalui panduan tersebut, perusahaan dapat menyusun strategi CSR yang lebih sistematis dan sesuai dengan prinsip keberlanjutan.

Referensi: https://www.iso.org/iso-26000-social-responsibility.html

Apa Itu GRI?

Global Reporting Initiative (GRI) adalah standar pelaporan keberlanjutan yang membantu perusahaan mengungkapkan kinerja ekonomi, sosial, dan lingkungan secara transparan.

Jika ISO 26000 berfungsi sebagai pedoman implementasi tanggung jawab sosial, maka GRI berfokus pada bagaimana perusahaan melaporkan hasil pelaksanaan program keberlanjutan kepada para pemangku kepentingan.

Melalui GRI, perusahaan dapat menyusun Sustainability Report yang lebih terstruktur, kredibel, dan mudah dibandingkan antarperiode.

Referensi: https://www.globalreporting.org/

Apa Itu SDGs?

Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang disusun oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tujuan ini menjadi agenda global untuk mengatasi berbagai tantangan, seperti kemiskinan, perubahan iklim, pendidikan, kesehatan, hingga pertumbuhan ekonomi.

Dalam implementasi CSR dan TJSL, SDGs berfungsi sebagai arah atau tujuan yang ingin dicapai melalui berbagai program perusahaan.

Contohnya, program pemberdayaan UMKM dapat mendukung SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), sedangkan program konservasi lingkungan dapat berkontribusi pada SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

Referensi: https://sdgs.un.org/goals

Perbedaan ISO 26000, GRI, dan SDGs

Walaupun sering digunakan secara bersamaan, ISO 26000, GRI, dan SDGs memiliki fungsi yang berbeda.

AspekISO 26000GRISDGs
FungsiPedoman tanggung jawab sosialStandar pelaporan keberlanjutanAgenda pembangunan global
FokusImplementasi CSRPelaporan kinerjaTujuan pembangunan
PenerbitISOGlobal Reporting InitiativePerserikatan Bangsa-Bangsa
SertifikasiTidakTidakTidak
PenggunaOrganisasiOrganisasiPemerintah, organisasi, perusahaan

Dengan memahami perbedaan tersebut, perusahaan dapat menentukan kerangka kerja yang sesuai dengan kebutuhan program.

Bagaimana Hubungan ISO 26000, GRI, dan SDGs?

ISO 26000, GRI, dan SDGs bukanlah kerangka yang saling menggantikan. Sebaliknya, ketiganya dapat digunakan secara bersamaan untuk memperkuat implementasi CSR dan TJSL.

Sebagai contoh:

  • ISO 26000 membantu perusahaan menyusun strategi dan pelaksanaan program.
  • SDGs menjadi tujuan pembangunan yang ingin dicapai.
  • GRI digunakan untuk melaporkan hasil implementasi program kepada para pemangku kepentingan.

Dengan pendekatan tersebut, perusahaan tidak hanya memiliki program yang terarah, tetapi juga mampu menunjukkan dampak dan akuntabilitas secara transparan.

Mengapa Ketiga Kerangka Ini Penting?

Saat ini, perusahaan menghadapi tuntutan yang semakin besar untuk menjalankan bisnis secara bertanggung jawab. Oleh karena itu, implementasi CSR tidak lagi hanya berfokus pada kegiatan sosial, tetapi juga harus memberikan manfaat yang terukur bagi masyarakat, lingkungan, dan perusahaan.

Menggunakan ISO 26000, GRI, dan SDGs secara terpadu memberikan beberapa manfaat, antara lain:

  • meningkatkan kualitas perencanaan program;
  • memperkuat tata kelola CSR;
  • mempermudah penyusunan Sustainability Report;
  • mendukung implementasi ESG;
  • meningkatkan kepercayaan para pemangku kepentingan.

Hubungan dengan Program CSR dan TJSL

Dalam praktiknya, perusahaan dapat mengintegrasikan ketiga kerangka tersebut ke dalam setiap tahapan Program CSR dan TJSL.

Sebagai contoh, proses social mapping digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan masyarakat. Selanjutnya, program dirancang mengacu pada prinsip ISO 26000, diselaraskan dengan target SDGs, dan hasilnya dilaporkan menggunakan standar GRI.

Pendekatan tersebut membantu perusahaan menciptakan program yang lebih tepat sasaran, terukur, dan berkelanjutan.

Baca juga: Social Mapping sebagai Fondasi Keberhasilan Program CSR dan TJSL
https://sinergiindonesia.co.id/social-mapping-csr-tjsl/

Baca juga: Outcome vs Output dalam Program CSR dan TJSL
https://sinergiindonesia.co.id/outcome-vs-output-program-csr/

Peran PT Sinergi Inta Waana dalam Implementasi CSR Berkelanjutan

Mengintegrasikan ISO 26000, GRI, dan SDGs memerlukan pemahaman yang baik terhadap kondisi masyarakat, tujuan perusahaan, serta indikator keberhasilan program.

ISO 26000 memberikan pedoman implementasi tanggung jawab sosial. GRI membantu perusahaan melaporkan kinerja keberlanjutan secara transparan. Sementara itu, SDGs menjadi arah pembangunan yang ingin dicapai melalui berbagai program.

Dengan mengintegrasikan ketiga kerangka tersebut, perusahaan dapat meningkatkan kualitas perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, dan evaluasi Program CSR sehingga mampu menciptakan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan.

Sebagai konsultan CSR dan TJSL, PT Sinergi Inta Waana mendampingi perusahaan mulai dari social mapping, penyusunan masterplan CSR, penyelarasan program dengan SDGs, implementasi berdasarkan prinsip ISO 26000, hingga penyusunan indikator dan evaluasi dampak sosial.

Outcome vs Output dalam Program CSR dan TJSL: Memahami Perbedaannya agar Program Lebih Berdampak

Outcome vs Output dalam Program CSR dan TJSL: Memahami Perbedaannya agar Program Lebih Berdampak

Outcome vs Output Program CSR sering menjadi topik yang membingungkan dalam implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Banyak perusahaan menganggap program telah berhasil ketika seluruh kegiatan selesai dilaksanakan. Padahal, keberhasilan program tidak hanya diukur dari output, tetapi juga dari outcome, yaitu perubahan nyata yang dirasakan oleh masyarakat sebagai penerima manfaat.

Dalam praktik CSR modern, perusahaan tidak hanya dituntut menyelesaikan kegiatan. Lebih dari itu, perusahaan perlu menunjukkan perubahan nyata yang dirasakan oleh masyarakat sebagai penerima manfaat. Oleh karena itu, memahami perbedaan antara output dan outcome menjadi langkah penting dalam merancang program yang efektif, terukur, dan berkelanjutan.

Jika perusahaan ingin membangun program berbasis dampak, tahap awal yang tidak boleh dilewatkan adalah melakukan social mapping untuk memahami kebutuhan masyarakat secara komprehensif. Pembahasan mengenai hal tersebut dapat dibaca pada artikel Social Mapping sebagai Fondasi Keberhasilan Program CSR dan TJSL.

Apa Itu Output dalam Program CSR?

Output adalah hasil langsung dari suatu kegiatan yang dilaksanakan perusahaan. Dengan kata lain, output menunjukkan apa yang berhasil diselesaikan selama program berlangsung.

Output biasanya mudah diukur karena bersifat kuantitatif.

Contohnya antara lain:

  • Membangun 1 unit green house hidroponik.
  • Menyelenggarakan 5 kali pelatihan.
  • Menyalurkan 500 bibit tanaman.
  • Memberikan pelatihan kepada 100 peserta.
  • Membangun 10 sumur bor.

Seluruh indikator tersebut menunjukkan bahwa kegiatan telah terlaksana. Namun, output belum mampu menjelaskan apakah program benar-benar menghasilkan perubahan bagi masyarakat.

Apa Itu Outcome dalam Program CSR?

Berbeda dengan output, outcome merupakan perubahan yang terjadi setelah program dijalankan. Perubahan tersebut dapat berupa peningkatan pengetahuan, perubahan perilaku, peningkatan kapasitas, maupun peningkatan kondisi ekonomi masyarakat.

Outcome menjawab pertanyaan sederhana:

“Apa yang berubah setelah program selesai?”

Contohnya adalah:

  • Pendapatan kelompok tani meningkat.
  • Produktivitas pertanian bertambah.
  • Masyarakat mampu mengelola usaha secara mandiri.
  • Ketahanan pangan keluarga meningkat.
  • Kelompok binaan mampu memperluas pasar.

Dengan demikian, outcome menjadi indikator utama keberhasilan program CSR yang berorientasi pada dampak.

Perbedaan Output dan Outcome

OutputOutcome
Hasil langsung dari kegiatanPerubahan yang terjadi setelah kegiatan
Bersifat jangka pendekBersifat jangka menengah
Mudah dihitungMemerlukan proses evaluasi
Berfokus pada aktivitasBerfokus pada perubahan

Perusahaan sering berhasil mencapai seluruh output. Akan tetapi, outcome belum tentu tercapai apabila program tidak dirancang sesuai kebutuhan masyarakat. Output vs Outcome.

Contoh Output dan Outcome Program CSR

Misalnya sebuah perusahaan membangun green house hidroponik.

Output

  • Green house selesai dibangun.
  • Instalasi hidroponik beroperasi.
  • Pelatihan hidroponik dilaksanakan.
  • Kelompok tani menerima peralatan.

Outcome

  • Kelompok tani mampu mengelola green house secara mandiri.
  • Produksi sayuran meningkat.
  • Pendapatan masyarakat bertambah.
  • Ketahanan pangan keluarga menjadi lebih baik.

Melalui contoh tersebut terlihat bahwa output hanya menggambarkan kegiatan, sedangkan outcome menunjukkan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Mengapa Outcome Lebih Penting?

Saat ini implementasi CSR tidak lagi sekadar memenuhi kewajiban perusahaan. Sebaliknya, perusahaan dituntut mampu menciptakan nilai bersama (shared value) bagi masyarakat dan lingkungan.

Karena itu, outcome memiliki beberapa manfaat penting, yaitu:

  • Mengukur efektivitas program.
  • Menjadi dasar evaluasi program.
  • Mendukung implementasi ESG.
  • Mempermudah penyusunan Sustainability Report.
  • Menunjukkan kontribusi terhadap SDGs.

Semakin besar outcome yang dihasilkan, semakin tinggi pula nilai strategis program CSR bagi perusahaan.

Hubungan Output, Outcome, dan Impact

Dalam penyusunan program CSR terdapat alur yang saling berkaitan.

Input → Activities → Output → Outcome → Impact

Urutan tersebut menjelaskan bahwa output hanyalah salah satu tahapan menuju dampak (impact) jangka panjang.

Agar hubungan antar tahapan menjadi jelas, perusahaan dapat menggunakan pendekatan Theory of Change. Kerangka ini membantu menghubungkan aktivitas dengan perubahan yang ingin dicapai sehingga setiap program memiliki arah yang jelas. Pembahasannya dapat dipelajari pada artikel Theory of Change dalam Program CSR dan TJSL.

Bagaimana Cara Mengukur Outcome?

Outcome tidak dapat diukur hanya melalui jumlah kegiatan. Sebaliknya, perusahaan perlu melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala.

Beberapa metode yang umum digunakan meliputi:

  • Baseline survey.
  • Endline survey.
  • Focus Group Discussion (FGD).
  • Wawancara mendalam.
  • Observasi lapangan.
  • Social Return on Investment (SROI).

Pendekatan tersebut membantu perusahaan memperoleh gambaran yang lebih objektif mengenai perubahan yang terjadi setelah program dilaksanakan. Selain itu, metode ini juga banyak digunakan dalam evaluasi program pembangunan dan pengukuran dampak sosial. (Sinergi Indonesia)

Peran PT Sinergi Inta Waana dalam Mengukur Outcome Program CSR

Menentukan outcome yang tepat memerlukan perencanaan sejak tahap awal. Oleh sebab itu, perusahaan perlu menyusun indikator keberhasilan berdasarkan kondisi masyarakat dan tujuan program.

PT Sinergi Inta Waana mendampingi perusahaan mulai dari social mapping, penyusunan Theory of Change, penentuan Key Performance Indicator (KPI), monitoring, evaluasi, hingga pengukuran dampak sosial. Pendekatan tersebut membantu perusahaan memastikan bahwa setiap program tidak hanya menghasilkan output, tetapi juga menciptakan outcome yang nyata dan berkelanjutan. Informasi mengenai layanan pendampingan dapat dilihat pada Jasa Social Mapping dan Program CSR Tepat Sasaran.

Kesimpulan

Output dan outcome merupakan dua indikator yang saling melengkapi dalam program CSR dan TJSL. Output menunjukkan apa yang telah dilakukan perusahaan, sedangkan outcome menunjukkan perubahan yang berhasil diwujudkan bagi masyarakat.

Dengan memahami perbedaan keduanya, perusahaan dapat menyusun program yang lebih efektif, meningkatkan kualitas implementasi ESG, mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), serta menghasilkan dampak sosial yang dapat diukur.

Sebagai konsultan CSR dan TJSL, PT Sinergi Inta Waana siap membantu perusahaan menyusun program berbasis data, mulai dari social mapping, perencanaan program, monitoring, evaluasi, hingga pengukuran dampak sosial yang selaras dengan kebutuhan perusahaan dan masyarakat.

Instalasi Hidroponik sebagai Strategi Program TJSL Berkelanjutan AirNav Indonesia di Banjarbaru

Instalasi Hidroponik sebagai Strategi Program TJSL Berkelanjutan AirNav Indonesia di Banjarbaru

Instalasi hidroponik kini menjadi salah satu inovasi yang banyak diterapkan dalam program Corporate Social Responsibility (CSR) dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Teknologi budidaya tanpa tanah ini mampu meningkatkan produktivitas pertanian. Selain itu, hidroponik juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui sistem pertanian yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Komitmen tersebut diwujudkan oleh AirNav Indonesia melalui Program TJSL Kampung BETTER AirNav Banjarbaru Tahun 2024. Program ini mengembangkan kawasan Integrated Farming di Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Program dirancang sebagai model pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, pelatihan, serta penguatan kapasitas masyarakat. Dengan demikian, manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Selain itu, program ini mendukung implementasi Program TJSL yang selaras dengan kebijakan Kementerian BUMN Republik Indonesia. Program juga berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Indonesia, serta mengacu pada prinsip-prinsip ISO 26000 tentang Tanggung Jawab Sosial.

Green House Modern dengan Instalasi Hidroponik NFT

Salah satu fasilitas utama dalam program ini adalah pembangunan green house hidroponik berukuran 20 × 10 meter. Selain itu, tersedia ruang penyimpanan alat berukuran 3 × 4 meter. Green house menggunakan rangka baja ringan, penutup atap plastik UV, serta dinding insect net. Oleh karena itu, tanaman terlindungi dari cuaca ekstrem maupun serangan hama.

Di dalam green house diterapkan metode Nutrient Film Technique (NFT). Metode ini mengalirkan larutan nutrisi secara terus-menerus ke akar tanaman. Hasilnya, penggunaan air menjadi lebih hemat, nutrisi lebih efisien, dan pertumbuhan tanaman berlangsung lebih cepat dibandingkan budidaya konvensional.

Instalasi hidroponik yang dibangun terdiri atas:

  • 1 meja persemaian sistem NFT.
  • 1 meja peremajaan dengan kapasitas 860 lubang tanam.
  • 6 meja pembesaran dengan total 1.200 lubang tanam.
  • Instalasi drip system untuk budidaya melon dan semangka.
  • Budidaya sayuran hidroponik berupa selada dan pakcoy.

Secara keseluruhan, fasilitas ini memiliki kapasitas lebih dari 2.000 lubang tanam. Karena itu, green house menjadi sarana produksi pertanian modern sekaligus media pembelajaran bagi masyarakat.

Pembangunan Dilaksanakan Secara Bertahap

Pembangunan instalasi hidroponik tidak hanya berfokus pada penyediaan sarana fisik. Namun, seluruh sistem juga dipastikan dapat berfungsi secara optimal.

Tahapan pembangunan dimulai dari pemasangan rangka greenhouse. Selanjutnya dilakukan pemasangan plastik UV dan insect net, pembangunan ruang penyimpanan alat, hingga instalasi sistem NFT dan drip system.

Seluruh meja persemaian, peremajaan, dan pembesaran berhasil dirakit sesuai desain. Setelah itu, sistem irigasi dan distribusi nutrisi diuji sehingga mampu mengalirkan nutrisi secara merata ke seluruh lubang tanam.

Progress pembangunan dilakukan secara bertahap mulai dari 0%, 25%, 50%, 85%, hingga mencapai penyelesaian 100%.

Persiapan Budidaya Hidroponik

Setelah pembangunan selesai, program dilanjutkan dengan persiapan budidaya tanaman.

Bibit selada, pakcoy, melon, dan semangka mulai disemai menggunakan media arang sekam. Media tersebut ditempatkan pada 48 planter bag berkapasitas 25 liter.

Selanjutnya, tanaman memperoleh nutrisi menggunakan larutan AB Mix. Dengan demikian, pertumbuhan tanaman dapat berlangsung secara optimal sesuai kebutuhan setiap komoditas.

Selain sistem hidroponik, kawasan integrated farming juga dilengkapi sumur gali, pompa air, jaringan listrik, dan berbagai peralatan pertanian. Fasilitas tersebut mendukung keberlanjutan operasional kawasan.

Penguatan Kapasitas Melalui Pelatihan Hidroponik

Keberhasilan instalasi hidroponik tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur. Sebaliknya, kemampuan masyarakat dalam mengelola fasilitas juga menjadi faktor penting.

Oleh sebab itu, AirNav Indonesia menyelenggarakan Pelatihan Strategi Integrated Farming. Pelatihan ini membahas teknik dasar hidroponik, pertanian organik, pengolahan pupuk, teknik penyemaian, penggunaan TDS meter, pH meter, hingga pembuatan larutan nutrisi tanaman.

Melalui pelatihan tersebut, masyarakat tidak hanya menerima bantuan fisik. Mereka juga memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan ekonomi keluarga.

Peran PT Sinergi Inta Waana sebagai Konsultan CSR dan TJSL

Keberhasilan Program Kampung BETTER AirNav Banjarbaru tidak terlepas dari pendampingan PT Sinergi Inta Waana sebagai konsultan CSR dan TJSL.

Tim pendamping mendukung penyusunan konsep program, perencanaan kegiatan, koordinasi dengan para pemangku kepentingan, pembangunan sarana dan prasarana, pelaksanaan pelatihan, monitoring, hingga evaluasi program.

Selain itu, tim memastikan seluruh kegiatan berjalan sesuai indikator kinerja yang telah ditetapkan.

Hasilnya, seluruh Key Performance Indicator (KPI) Program Kampung BETTER AirNav Banjarbaru berhasil direalisasikan 100%. Capaian tersebut meliputi pendampingan program, pengadaan sarana dan prasarana integrated farming, pelatihan strategi integrated farming, serta monitoring dan evaluasi.

Mendorong ESG dan Pembangunan Berkelanjutan

Program instalasi hidroponik ini menunjukkan bahwa implementasi TJSL tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek. Lebih dari itu, program juga mendukung penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Di samping itu, program berkontribusi terhadap beberapa tujuan  Sustainable Development Goals (SDGs).

Kontribusi tersebut mencakup penghapusan kemiskinan, ketahanan pangan, pekerjaan layak, konsumsi dan produksi berkelanjutan, aksi iklim, serta pelestarian ekosistem daratan.

Dengan demikian, Kampung BETTER AirNav Banjarbaru menjadi contoh program CSR yang dirancang secara terukur. Program ini memadukan teknologi pertanian modern dengan pendampingan berkelanjutan sehingga mampu menciptakan dampak sosial yang lebih luas dan memperkuat kemandirian masyarakat.

Bagi perusahaan yang ingin mengembangkan program CSR, TJSL, ESG, community development, maupun pertanian berkelanjutan berbasis hidroponik dan integrated farming, PT Sinergi Inta Waana siap menjadi mitra strategis. Layanan yang tersedia meliputi social mapping, perencanaan program, implementasi, monitoring, evaluasi dampak sosial, hingga penyusunan roadmap keberlanjutan yang selaras dengan kebutuhan perusahaan dan masyarakat.

Pembangunan Green House Program TJSL AirNav Indonesia Tahun 2024

Pembangunan Green House Program TJSL AirNav Indonesia Tahun 2024

Pembangunan Green House menjadi salah satu inisiatif utama dalam Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) AirNav Indonesia pada tahun 2024. Program ini merupakan bagian dari Kampung BETTER AirNav Banjarbaru, sebuah program pemberdayaan masyarakat yang mengembangkan konsep Integrated Farming untuk meningkatkan ketahanan pangan, memperkuat ekonomi masyarakat, dan mendorong praktik pertanian berkelanjutan. Program dilaksanakan di Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan selama periode Juli hingga Desember 2024.

Mengapa Pembangunan Green House Dibutuhkan?

Pembangunan Green House dilakukan untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat, mulai dari perubahan iklim, keterbatasan lahan produktif, hingga kebutuhan akan sistem pertanian yang lebih efisien. Green House mampu menciptakan lingkungan tanam yang lebih stabil sehingga tanaman terlindungi dari cuaca ekstrem, serangan hama, dan perubahan suhu yang dapat menurunkan produktivitas.

Melalui fasilitas ini, masyarakat memperoleh sarana budidaya modern yang mampu meningkatkan kualitas hasil panen sekaligus menjadi media pembelajaran mengenai praktik pertanian berkelanjutan.

Green House sebagai Sarana Pertanian Berkelanjutan

Pembangunan Green House merupakan investasi jangka panjang yang mendukung pengembangan pertanian modern. Berbeda dengan metode budidaya terbuka, Green House memberikan pengendalian lingkungan yang lebih baik sehingga proses produksi menjadi lebih optimal.

Keberadaan Green House juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi dengan kualitas yang lebih konsisten. Selain meningkatkan produktivitas, fasilitas ini juga menjadi pusat edukasi bagi kelompok tani dalam menerapkan teknologi pertanian yang lebih efisien.

Spesifikasi Pembangunan Green House

Green House yang dibangun melalui Program TJSL AirNav Indonesia memiliki spesifikasi yang dirancang untuk mendukung kegiatan budidaya secara optimal, meliputi:

  • Green House berukuran 20 × 10 meter.
  • Ruang penyimpanan alat berukuran 3 × 4 meter.
  • Rangka menggunakan baja ringan yang kuat dan tahan lama.
  • Atap menggunakan plastik UV untuk menjaga intensitas cahaya.
  • Dinding menggunakan insect net sebagai pelindung dari hama.
  • Dilengkapi dua pintu geser untuk memudahkan aktivitas operasional.

Spesifikasi tersebut dipilih agar Green House mampu digunakan dalam jangka panjang dengan biaya pemeliharaan yang efisien.

Tahapan Pembangunan Green House

Pembangunan Green House dilaksanakan secara bertahap agar seluruh fasilitas memenuhi standar operasional pertanian modern.

Tahapan pekerjaan meliputi:

  • persiapan lokasi pembangunan;


  • pemasangan rangka baja ringan;
  • pemasangan atap plastik UV;
  • pemasangan dinding insect net;
  • pembangunan ruang penyimpanan alat;
  • pemasangan pintu akses;
  • pengujian kelayakan bangunan sebelum digunakan masyarakat.

Seluruh proses pembangunan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keamanan, ketahanan konstruksi, dan kebutuhan operasional kelompok tani.

Manfaat Pembangunan Green House bagi Masyarakat

Pembangunan Green House memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat, antara lain:

  • meningkatkan produktivitas pertanian;
  • menjaga kualitas hasil panen;
  • mengurangi risiko gagal panen akibat cuaca;
  • meningkatkan keterampilan masyarakat dalam pertanian modern;
  • memperkuat ketahanan pangan lokal;
  • menciptakan peluang usaha baru berbasis pertanian.

Keberadaan Green House juga menjadi fondasi bagi pengembangan inovasi pertanian pada tahap berikutnya sehingga masyarakat memiliki kesempatan untuk meningkatkan nilai tambah hasil produksi.

PT Sinergi Inta Waana sebagai Konsultan CSR dan TJSL

Keberhasilan pembangunan Green House tidak terlepas dari pendampingan PT Sinergi Inta Waana sebagai konsultan CSR dan TJSL.

Pendampingan dilakukan secara menyeluruh melalui:

Pendekatan tersebut memastikan bahwa pembangunan Green House tidak berhenti pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga mendorong terciptanya kemandirian masyarakat dalam mengelola program secara berkelanjutan.

Pembangunan Green House Selaras dengan ISO 26000

Pembangunan Green House dalam Program TJSL AirNav Indonesia Tahun 2024 dirancang selaras dengan prinsip-prinsip ISO 26000 sebagai pedoman internasional mengenai tanggung jawab sosial organisasi. Program ini tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga mengedepankan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, pelibatan pemangku kepentingan, serta penciptaan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.

Melalui pendampingan PT Sinergi Inta Waana, program mengintegrasikan proses perencanaan, implementasi, monitoring, dan evaluasi sehingga mencerminkan penerapan prinsip akuntabilitas, transparansi, perilaku etis, serta pengembangan masyarakat sebagaimana direkomendasikan dalam ISO 26000.

Mendukung ESG dan SDGs

Pembangunan Green House juga mendukung implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui pengelolaan sumber daya yang lebih efisien dan pemberdayaan masyarakat.

Selain itu, program ini berkontribusi terhadap beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu:

  • SDG 1 Tanpa Kemiskinan;
  • SDG 2 Tanpa Kelaparan;
  • SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi;
  • SDG 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab;
  • SDG 13 Penanganan Perubahan Iklim;
  • SDG 15 Ekosistem Daratan.

Dampak Program Tahun 2024

Selama pelaksanaan program, pembangunan Green House berhasil menjadi salah satu fasilitas utama yang mendukung pengembangan kawasan pertanian terpadu di Banjarbaru.

Program juga berhasil mencapai seluruh indikator kinerja (KPI) yang meliputi pendampingan, pengadaan sarana dan prasarana, pelatihan, serta monitoring dan evaluasi dengan tingkat realisasi 100%.

Penutup

Pembangunan Green House dalam Program TJSL AirNav Indonesia Tahun 2024 membuktikan bahwa program CSR dan TJSL dapat memberikan dampak yang nyata apabila dirancang secara komprehensif. Melalui kolaborasi antara AirNav Indonesia dan PT Sinergi Inta Waana sebagai konsultan CSR dan TJSL, program ini menghadirkan fasilitas pertanian modern yang mendukung ketahanan pangan, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta memperkuat praktik pembangunan berkelanjutan.

Pembangunan Green House juga menunjukkan implementasi TJSL yang selaras dengan prinsip-prinsip ISO 26000, mendukung pencapaian ESG dan SDGs, sehingga manfaat program tidak hanya dirasakan pada saat pembangunan berlangsung, tetapi juga memberikan nilai tambah sosial, ekonomi, dan lingkungan dalam jangka panjang.