Program CSR/TJSL terus berkembang. Perusahaan tidak lagi hanya memberikan bantuan kepada masyarakat.
Saat ini, perusahaan perlu memastikan program memberikan manfaat yang jelas. Program juga perlu sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi wilayah.
Salah satu pendekatan yang semakin penting adalah menyelaraskan CSR/TJSL dengan prioritas pembangunan daerah.
Pendekatan ini membuat program lebih relevan. Selain itu, perusahaan dapat membangun kolaborasi yang lebih kuat dengan pemerintah dan masyarakat.
Mengapa CSR/TJSL Perlu Selaras dengan Pembangunan Daerah?
Setiap daerah memiliki kebutuhan yang berbeda.
Ada daerah yang membutuhkan penguatan ekonomi. Daerah lain mungkin membutuhkan dukungan di bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, atau ketenagakerjaan.
Karena itu, perusahaan perlu memahami kondisi wilayah sebelum menentukan program.
Program yang baik bukan hanya mudah dilaksanakan. Program juga harus menjawab kebutuhan masyarakat.
Pada Juli 2026, workshop kemitraan CSR Bank Kalteng juga mendorong agar program CSR selaras dengan prioritas pembangunan daerah. Program diharapkan memiliki dampak yang terukur dan berkelanjutan.
Mulai dari Kebutuhan Masyarakat
Perusahaan sebaiknya tidak langsung menentukan bentuk kegiatan.
Langkah pertama adalah memahami kebutuhan masyarakat.
Beberapa pertanyaan dapat menjadi dasar perencanaan, seperti:
- Apa masalah utama masyarakat?
- Apa potensi yang dimiliki masyarakat?
- Apa prioritas pembangunan daerah?
- Apa peran yang dapat dilakukan perusahaan?
- Siapa saja pihak yang perlu dilibatkan?
Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat menjadi dasar penyusunan program.
Dengan cara ini, CSR/TJSL tidak hanya berorientasi pada kegiatan. Program juga memiliki tujuan yang lebih jelas.
Social Mapping Membantu Perusahaan Memahami Wilayah
Sebelum menjalankan program, perusahaan dapat melakukan social mapping.
Social mapping membantu perusahaan memahami kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan di suatu wilayah.
Selain itu, perusahaan dapat melihat potensi yang sudah dimiliki masyarakat.
Hasil social mapping dapat membantu perusahaan menentukan:
- penerima manfaat;
- kebutuhan masyarakat;
- potensi ekonomi lokal;
- kelompok masyarakat;
- risiko sosial;
- peluang kolaborasi; dan
- prioritas program.
Dengan demikian, perusahaan memiliki dasar yang lebih kuat saat menyusun program.
Pentingnya Stakeholder Engagement
Program CSR/TJSL melibatkan banyak pihak.
Karena itu, perusahaan perlu membangun komunikasi dengan para pemangku kepentingan atau stakeholder.
Pihak yang dapat dilibatkan antara lain:
- masyarakat;
- pemerintah daerah;
- pemerintah desa;
- kelompok masyarakat;
- komunitas;
- akademisi;
- lembaga sosial; dan
- mitra pelaksana.
Melalui stakeholder engagement, perusahaan dapat memperoleh informasi dari berbagai sudut pandang.
Selain itu, masyarakat dapat ikut terlibat dalam proses perencanaan. Hal ini dapat meningkatkan rasa memiliki terhadap program.
Hubungkan Program dengan Potensi Lokal
Program CSR/TJSL tidak harus selalu dimulai dari masalah.
Perusahaan juga perlu melihat potensi lokal.
Potensi tersebut dapat berupa:
- UMKM;
- pertanian;
- perikanan;
- pariwisata;
- kerajinan;
- budaya;
- ekonomi kreatif; atau
- keterampilan masyarakat.
Sebagai contoh, sebuah daerah memiliki potensi kerajinan lokal.
Perusahaan dapat memberikan pelatihan produksi, pemasaran, pengemasan, dan pengelolaan usaha.
Program tersebut tidak hanya memberikan bantuan. Masyarakat juga memperoleh keterampilan yang dapat digunakan dalam jangka panjang.
CSR/TJSL Perlu Mendorong Kemandirian
Program CSR/TJSL yang baik tidak berhenti pada pemberian bantuan.
Perusahaan dapat mendorong masyarakat agar memiliki kemampuan untuk mengembangkan program secara mandiri.
Misalnya, program pemberdayaan UMKM dapat diarahkan pada peningkatan keterampilan dan akses pasar.
Kemudian, kelompok masyarakat dapat mengelola kegiatan dengan dukungan yang semakin berkurang dari perusahaan.
Dengan pendekatan tersebut, manfaat program dapat bertahan lebih lama.
Kolaborasi Membuat Program Lebih Kuat
Program CSR/TJSL juga tidak harus berjalan sendiri.
Perusahaan dapat berkolaborasi dengan pemerintah daerah, masyarakat, akademisi, komunitas, dan mitra pelaksana.
Setiap pihak dapat memiliki peran yang berbeda.
Perusahaan dapat memberikan dukungan program dan sumber daya.
Pemerintah daerah dapat membantu menghubungkan program dengan prioritas pembangunan.
Masyarakat menjadi pelaku utama di lapangan.
Mitra pelaksana membantu proses pendampingan dan pengelolaan program.
Dengan pembagian peran tersebut, program dapat berjalan lebih terarah.
Bagaimana Menentukan Program CSR/TJSL yang Tepat?
Perusahaan dapat menggunakan beberapa langkah berikut.
1. Pahami Kondisi Wilayah
Kumpulkan data mengenai kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
Perusahaan dapat menggunakan social mapping, survei, wawancara, atau FGD.
2. Tentukan Masalah Prioritas
Tidak semua masalah dapat ditangani sekaligus.
Karena itu, perusahaan perlu memilih masalah yang paling relevan dengan kondisi masyarakat dan tujuan perusahaan.
3. Identifikasi Potensi Lokal
Selanjutnya, petakan potensi yang dimiliki masyarakat.
Potensi tersebut dapat menjadi dasar untuk membuat program pemberdayaan.
4. Libatkan Stakeholder
Ajak masyarakat dan pemangku kepentingan berdiskusi.
Langkah ini membantu perusahaan memahami kebutuhan serta mendapatkan masukan dari pihak yang terlibat langsung.
5. Tentukan Indikator Program
Setiap program perlu memiliki indikator yang jelas.
Indikator tidak hanya berbentuk jumlah kegiatan atau jumlah peserta.
Misalnya, perusahaan tidak hanya mencatat 100 orang mengikuti pelatihan.
Perusahaan juga dapat mengukur berapa peserta yang mampu menerapkan keterampilan setelah pelatihan.
Dari Output Menuju Outcome
Pengukuran program menjadi bagian penting dalam pengelolaan CSR/TJSL.
Output menunjukkan kegiatan yang telah dilakukan.
Outcome menunjukkan perubahan yang terjadi setelah program.
Sementara itu, impact menggambarkan dampak yang lebih luas dalam jangka panjang.
Contohnya:
Output:
50 UMKM mengikuti pelatihan.
Outcome:
Peserta mulai meningkatkan kualitas produk dan pemasaran.
Impact:
UMKM mampu meningkatkan pendapatan dan mengembangkan usahanya secara mandiri.
Pendekatan ini membantu perusahaan melihat perubahan yang dihasilkan program.
Monitoring Membantu Menjaga Arah Program
Program CSR/TJSL membutuhkan monitoring secara berkala.
Monitoring membantu perusahaan melihat perkembangan kegiatan.
Selain itu, perusahaan dapat mengetahui kendala yang muncul di lapangan.
Hasil monitoring dapat digunakan untuk melakukan perbaikan program.
Dengan begitu, perusahaan tidak perlu menunggu hingga program selesai untuk mengetahui hasilnya.
Peran Mitra Pelaksana dalam CSR/TJSL
Program CSR/TJSL yang berbasis kebutuhan membutuhkan proses yang terstruktur.
Mitra pelaksana dapat membantu perusahaan dalam berbagai tahap.
Proses tersebut dapat mencakup:
Social Mapping → Need Assessment → Perencanaan → Implementasi → Monitoring → Evaluasi → Pengukuran Dampak
Mitra juga dapat membantu perusahaan menjaga komunikasi dengan masyarakat dan stakeholder.
Sebagai konsultan CSR, TJSL, dan community development, PT Sinergi Inta Waana membantu perusahaan merancang dan mengelola program berdasarkan kebutuhan masyarakat, potensi lokal, karakteristik wilayah, serta tujuan keberlanjutan perusahaan.
Pendekatan tersebut membantu perusahaan membangun program yang lebih tepat sasaran dan terukur.
CSR/TJSL yang Relevan Dimulai dari Masyarakat
Program CSR/TJSL tidak hanya berbicara tentang anggaran dan kegiatan.
Yang lebih penting adalah perubahan yang terjadi setelah program berjalan.
Karena itu, perusahaan perlu memahami kondisi masyarakat sebelum menentukan program.
Selanjutnya, perusahaan dapat menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan potensi lokal dan prioritas pembangunan daerah.
Pelibatan stakeholder juga perlu dilakukan sejak tahap awal.
Dengan proses tersebut, CSR/TJSL dapat menjadi lebih tepat sasaran, terukur, dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, program yang baik bukan hanya memberikan manfaat dalam jangka pendek. Program juga dapat membantu masyarakat membangun kemampuan dan kemandirian dalam jangka panjang.





