Perkembangan ESG di Indonesia terus bergerak dari sekadar komitmen menjadi bagian dari strategi bisnis. Perusahaan semakin dituntut untuk memahami risiko keberlanjutan, mengukur dampak, serta menunjukkan kinerja lingkungan dan sosial secara lebih terukur.
Perubahan tersebut semakin terlihat setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan Roadmap Pasar Modal Berkelanjutan Indonesia 2026–2030.
Roadmap ini menjadi panduan untuk mendorong pengembangan pasar modal berkelanjutan. Fokusnya mencakup pendanaan dan investasi berkelanjutan, perlindungan investor, serta penguatan ekosistem pasar modal berbasis prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). (OJK Portal)
Lalu, apa kaitannya dengan strategi ESG dan program CSR/TJSL perusahaan?
Apa Itu Roadmap Pasar Modal Berkelanjutan 2026–2030?
Roadmap Pasar Modal Berkelanjutan Indonesia 2026–2030 merupakan arah strategis OJK untuk memperkuat peran pasar modal dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
OJK membaginya ke dalam empat pilar utama:
- Memperkuat fondasi pasar modal berkelanjutan
- Menumbuhkan aktivitas pasar modal berkelanjutan
- Mendorong partisipasi dalam pasar modal berkelanjutan
- Memperkuat kolaborasi untuk pengembangan pasar modal berkelanjutan
Keempat pilar tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem pasar modal yang lebih mendukung pendanaan dan investasi berkelanjutan. (OJK Portal)
Dengan demikian, ESG semakin berkaitan dengan bagaimana perusahaan mengelola risiko, menciptakan nilai, dan berkomunikasi dengan pemangku kepentingan.
Mengapa Perkembangan Ini Penting bagi Perusahaan?
Selama ini, pembahasan ESG sering kali identik dengan laporan keberlanjutan.
Namun, arah perkembangan pasar modal menunjukkan bahwa ESG memiliki cakupan yang lebih luas.
Perusahaan perlu memahami bagaimana isu lingkungan, sosial, dan tata kelola dapat memengaruhi keberlangsungan bisnis.
Misalnya, perusahaan dapat menghadapi risiko dari:
- perubahan iklim;
- hubungan dengan masyarakat;
- kondisi tenaga kerja;
- rantai pasok;
- tata kelola;
- kepatuhan;
- reputasi; dan
- perubahan ekspektasi investor.
Karena itu, pengelolaan ESG tidak cukup dilakukan melalui kegiatan sosial yang berdiri sendiri.
Perusahaan perlu menghubungkan program keberlanjutan dengan strategi dan risiko bisnis.
Lalu, Apa Hubungannya dengan Program TJSL?
Program TJSL merupakan salah satu bagian penting dalam aspek sosial perusahaan.
Namun, program TJSL akan semakin relevan jika memiliki hubungan yang jelas dengan kebutuhan masyarakat dan strategi keberlanjutan perusahaan.
Sebagai contoh, perusahaan menjalankan program pemberdayaan UMKM.
Program tersebut tidak cukup hanya mencatat jumlah peserta pelatihan.
Perusahaan juga dapat mengukur:
- peningkatan kapasitas penerima manfaat;
- peningkatan pendapatan;
- perkembangan usaha;
- akses terhadap pasar;
- jumlah kelompok yang mandiri; dan
- keberlanjutan manfaat setelah pendampingan selesai.
Dengan pendekatan tersebut, program TJSL menghasilkan data yang dapat digunakan untuk menunjukkan dampak sosial.
TJSL Perlu Bergerak dari Aktivitas ke Dampak
Salah satu perubahan penting dalam pengelolaan CSR/TJSL adalah pergeseran dari activity-based menuju impact-based.
Artinya, keberhasilan program tidak hanya dilihat dari berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apa perubahan yang terjadi setelah program dilaksanakan?
Misalnya:
Output
100 orang mengikuti pelatihan.
Outcome
70 peserta mampu menerapkan keterampilan yang diperoleh.
Impact
Sebagian peserta mengalami peningkatan pendapatan dan mampu menjalankan usaha secara lebih mandiri.
Perbedaan tersebut penting karena membantu perusahaan memahami nilai yang dihasilkan oleh program.
Data TJSL Semakin Penting dalam ESG
Perkembangan ESG juga membuat data sosial menjadi semakin penting.
Perusahaan perlu memiliki data yang dapat menunjukkan bagaimana program memberikan manfaat kepada masyarakat.
Karena itu, sejak tahap perencanaan, program TJSL sebaiknya sudah memiliki:
- baseline;
- indikator keberhasilan;
- target;
- metode monitoring;
- mekanisme evaluasi;
- data penerima manfaat; dan
- metode pengukuran dampak.
Data tersebut dapat menjadi dasar evaluasi program sekaligus memperkuat informasi sosial dalam ESG Reporting dan Sustainability Report.
Hal ini sejalan dengan perkembangan pelaporan keberlanjutan di Indonesia yang semakin menekankan informasi yang terstruktur, terukur, dan relevan dengan strategi serta risiko perusahaan. (Sinergi Indonesia)
Bagaimana Perusahaan Sebaiknya Merespons?
Perusahaan tidak perlu menunggu perubahan regulasi atau tuntutan stakeholder semakin kuat.
Ada beberapa langkah yang dapat mulai dilakukan.
1. Petakan Isu ESG yang Material
Perusahaan perlu memahami isu keberlanjutan yang paling relevan dengan bisnisnya.
Tidak semua perusahaan memiliki risiko ESG yang sama.
Karena itu, pemetaan perlu mempertimbangkan karakteristik industri, lokasi operasi, rantai pasok, masyarakat sekitar, tenaga kerja, serta ekspektasi stakeholder.
2. Hubungkan ESG dengan Strategi TJSL
Program TJSL sebaiknya tidak dibuat hanya berdasarkan daftar kegiatan tahunan.
Perusahaan perlu melihat bagaimana program dapat menjawab isu sosial yang relevan sekaligus mendukung tujuan keberlanjutan perusahaan.
3. Gunakan Indikator yang Terukur
Setiap program perlu memiliki indikator yang jelas.
Indikator tersebut dapat digunakan untuk melihat perkembangan program dari waktu ke waktu.
4. Perkuat Monitoring dan Evaluasi
Monitoring membantu perusahaan mengetahui apakah program berjalan sesuai rencana.
Sementara itu, evaluasi membantu melihat apakah program menghasilkan perubahan bagi penerima manfaat.
5. Dokumentasikan Dampak
Data, hasil survei, wawancara, dokumentasi kegiatan, serta hasil evaluasi perlu disimpan dengan baik.
Dokumentasi akan membantu perusahaan ketika melakukan evaluasi dan menyusun laporan keberlanjutan.
Peran Mitra dalam Memperkuat Strategi ESG dan TJSL
Pengelolaan program CSR/TJSL yang semakin kompleks membuat perusahaan membutuhkan pendekatan yang lebih terstruktur.
Mitra pelaksana bukan hanya berperan dalam menjalankan kegiatan di lapangan.
Mitra juga dapat membantu perusahaan dalam proses:
Assessment → Perencanaan → Implementasi → Monitoring → Evaluasi → Pengukuran Dampak → Pelaporan
Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai perkembangan program.
Dalam konteks ini, PT Sinergi Inta Waana dapat berperan sebagai mitra perusahaan dalam pengelolaan CSR/TJSL dan community development, termasuk membantu perusahaan membangun program yang berbasis kebutuhan masyarakat, indikator keberhasilan, monitoring, evaluasi, serta pengukuran dampak.
Dengan proses yang terstruktur, program TJSL tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi dapat diarahkan untuk menghasilkan perubahan yang lebih terukur dan berkelanjutan.
Apa yang Perlu Dipersiapkan Perusahaan Mulai 2026?
Perkembangan Roadmap Pasar Modal Berkelanjutan 2026–2030 menunjukkan bahwa arah keberlanjutan perusahaan semakin terintegrasi dengan ekosistem bisnis dan pasar keuangan.
Karena itu, perusahaan dapat mulai memperkuat beberapa hal:
Strategi ESG
Memastikan isu keberlanjutan masuk dalam perencanaan bisnis.
Data ESG
Membangun sistem pengumpulan data yang konsisten.
Program TJSL
Mengembangkan program berdasarkan kebutuhan dan potensi masyarakat.
Pengukuran Dampak
Mengukur perubahan yang dihasilkan, bukan hanya jumlah kegiatan.
Monitoring & Evaluasi
Memastikan program berjalan dan memberikan hasil sesuai target.
Sustainability Reporting
Mengolah data keberlanjutan menjadi informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan persiapan tersebut, perusahaan akan lebih siap menghadapi perkembangan ESG yang semakin terintegrasi dengan strategi bisnis.
ESG Bukan Lagi Sekadar Pelaporan
Roadmap Pasar Modal Berkelanjutan Indonesia 2026–2030 memperlihatkan bahwa keberlanjutan semakin ditempatkan sebagai bagian dari pengembangan ekosistem pasar modal Indonesia. OJK menargetkan penguatan pendanaan dan investasi berkelanjutan melalui berbagai produk dan aktivitas pasar modal. (OJK Portal)
Bagi perusahaan, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa ESG tidak cukup hanya ditampilkan dalam laporan.
Perusahaan perlu membangun proses yang nyata di balik data tersebut.
Program CSR/TJSL menjadi salah satu ruang penting untuk mewujudkan aspek sosial ESG. Namun, program tersebut perlu dirancang dengan tujuan yang jelas, indikator yang terukur, monitoring yang konsisten, serta pengukuran dampak.
Dengan demikian, CSR/TJSL tidak hanya menjadi aktivitas sosial perusahaan, tetapi dapat menjadi bagian dari strategi keberlanjutan yang menciptakan nilai bagi masyarakat dan perusahaan.





