Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) terus mengalami perubahan. Jika sebelumnya kegiatan sosial perusahaan banyak dilakukan dalam bentuk bantuan atau charity, kini pendekatannya mulai bergeser.
Perusahaan mulai mengembangkan program yang dapat menciptakan manfaat jangka panjang. Pendekatan ini juga semakin terlihat dalam praktik keberlanjutan perusahaan di Indonesia.
TJSL tidak lagi berdiri sendiri sebagai kegiatan sosial. Program TJSL mulai dihubungkan dengan strategi bisnis, ESG, kebutuhan masyarakat, dan penciptaan nilai bersama.
Pendekatan tersebut dikenal sebagai Creating Shared Value (CSV).
Apa Itu Creating Shared Value dalam TJSL?
Creating Shared Value atau CSV merupakan pendekatan yang berupaya menciptakan manfaat bagi perusahaan sekaligus masyarakat.
Artinya, program sosial tidak hanya dilihat dari jumlah bantuan yang diberikan. Perusahaan juga perlu melihat bagaimana program tersebut dapat menjawab kebutuhan masyarakat.
Pada saat yang sama, program perlu memiliki keterkaitan dengan keberlanjutan bisnis.
Dalam konteks TJSL perusahaan, pendekatan CSV dapat diterapkan dengan menghubungkan tiga hal:
- kebutuhan masyarakat;
- potensi dan kondisi wilayah; serta
- strategi dan kepentingan jangka panjang perusahaan.
Dengan pendekatan tersebut, program TJSL dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Program juga memiliki peluang untuk terus berkembang dalam jangka panjang.
Mengapa Pendekatan Charity Mulai Bergeser?
Charity tetap memiliki tempat dalam kondisi tertentu. Bantuan sosial dan bantuan kebencanaan, misalnya, tetap penting bagi masyarakat yang membutuhkan.
Namun, charity memiliki keterbatasan jika menjadi satu-satunya pendekatan dalam program TJSL.
Bantuan yang diberikan satu kali dapat membantu menyelesaikan kebutuhan jangka pendek. Akan tetapi, bantuan tersebut belum tentu meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menghadapi persoalan yang sama di masa depan.
Karena itu, perusahaan mulai membutuhkan pendekatan yang lebih strategis.
Program TJSL dapat diarahkan untuk membangun keterampilan dan memperkuat kelembagaan masyarakat. Program juga dapat mengembangkan usaha lokal, meningkatkan akses terhadap sumber daya, dan menciptakan peluang ekonomi.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat. Mereka juga dapat menjadi pelaku utama dalam proses perubahan.
TJSL dan Creating Shared Value: Apa Perbedaannya?
Perbedaan antara charity dan Creating Shared Value dapat dilihat dari orientasinya.
| Pendekatan Charity | Pendekatan Creating Shared Value |
|---|---|
| Berorientasi pada bantuan | Berorientasi pada penciptaan nilai |
| Dampak cenderung jangka pendek | Dampak diarahkan untuk jangka panjang |
| Masyarakat sebagai penerima manfaat | Masyarakat sebagai mitra |
| Fokus pada pemberian | Fokus pada pemberdayaan |
| Tidak selalu berkaitan dengan bisnis | Dapat terhubung dengan strategi bisnis |
| Keberlanjutan menjadi tantangan | Keberlanjutan menjadi bagian dari desain program |
Perbedaan tersebut bukan berarti charity harus ditinggalkan sepenuhnya.
Charity tetap dapat menjadi bagian dari rangkaian program TJSL. Namun, perusahaan perlu menentukan kapan bantuan diperlukan dan kapan program perlu dikembangkan menjadi pemberdayaan.
Bagaimana Menerapkan CSV dalam Program TJSL?
Penerapan Creating Shared Value membutuhkan proses perencanaan yang matang. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan perusahaan.
1. Mulai dari kebutuhan masyarakat
Program sebaiknya tidak dimulai dari pertanyaan, “Bantuan apa yang ingin diberikan perusahaan?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Persoalan apa yang dihadapi masyarakat dan bagaimana perusahaan dapat berkontribusi untuk menyelesaikannya?”
Proses ini dapat dilakukan melalui social mapping atau need assessment. Perusahaan juga dapat melakukan diskusi dengan masyarakat dan pemetaan pemangku kepentingan.
Dengan memahami kondisi masyarakat sejak awal, perusahaan dapat menghindari program yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
2. Identifikasi potensi lokal
Setiap wilayah memiliki potensi yang berbeda.
Ada masyarakat yang memiliki potensi di bidang pertanian, perikanan, dan pariwisata. Potensi lain dapat ditemukan pada UMKM, kerajinan, ekonomi kreatif, dan pengelolaan lingkungan.
Potensi tersebut dapat menjadi dasar pengembangan program TJSL.
Program yang memanfaatkan potensi lokal biasanya lebih mudah dikembangkan. Masyarakat sudah memiliki pengetahuan, pengalaman, atau sumber daya yang dapat diperkuat.
3. Hubungkan dengan kompetensi perusahaan
Program TJSL juga perlu mempertimbangkan kemampuan perusahaan.
Sebagai contoh, perusahaan di sektor perbankan dapat berkontribusi melalui literasi dan inklusi keuangan.
Perusahaan teknologi dapat mendukung digitalisasi UMKM. Sementara itu, perusahaan di sektor energi dapat mengembangkan program yang berkaitan dengan energi bersih dan efisiensi energi.
Dengan cara ini, kontribusi perusahaan tidak berhenti pada pemberian dana.
Perusahaan juga dapat memberikan pengetahuan dan teknologi. Selain itu, perusahaan dapat membuka akses pasar, jaringan, dan keahlian yang dimilikinya.
4. Bangun kapasitas masyarakat
Program yang berkelanjutan membutuhkan masyarakat yang memiliki kapasitas untuk menjalankannya.
Karena itu, pelatihan sebaiknya tidak menjadi kegiatan yang berdiri sendiri.
Pelatihan perlu diikuti dengan pendampingan dan penguatan kelembagaan. Program juga dapat dilengkapi dengan akses pasar serta mekanisme evaluasi.
Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan masyarakat. Dengan begitu, masyarakat dapat mengelola program secara lebih mandiri.
5. Ukur dampaknya
Pendekatan CSV juga membutuhkan pengukuran dampak.
Perusahaan dapat menggunakan berbagai indikator untuk melihat perubahan yang terjadi. Pengukuran dapat mencakup aspek sosial, ekonomi, maupun lingkungan.
Beberapa indikator yang dapat digunakan antara lain peningkatan pendapatan dan jumlah masyarakat yang memperoleh manfaat.
Perusahaan juga dapat mengukur peningkatan kapasitas, penciptaan lapangan kerja, dan kualitas lingkungan.
Jika sesuai dengan karakter program, perusahaan dapat menggunakan indikator Social Return on Investment (SROI).
Dengan pengukuran tersebut, perusahaan dapat mengetahui apakah program benar-benar menghasilkan perubahan. Pengukuran juga membantu membedakan antara dampak dan sekadar aktivitas.
TJSL dan Creating Shared Value Semakin Dekat dengan Strategi ESG
Perubahan pendekatan TJSL tidak dapat dilepaskan dari semakin pentingnya ESG dalam strategi perusahaan.
Pada 2026, perkembangan kebijakan keuangan berkelanjutan di Indonesia juga semakin memperkuat kebutuhan perusahaan untuk memahami hubungan antara aktivitas bisnis dan keberlanjutan.
Salah satu perkembangan penting adalah Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) Versi 3 yang diterbitkan OJK pada 2026.
TKBI Versi 3 memperluas kriteria teknis ke sejumlah sektor. Beberapa di antaranya adalah pertanian dan perkebunan, manufaktur, serta pengelolaan air dan limbah.
TKBI juga mencakup sektor pendukung seperti informasi dan komunikasi. (OJK)
TKBI bukan pedoman khusus untuk menyusun program TJSL. Namun, perkembangan tersebut menunjukkan arah yang semakin jelas.
Aspek keberlanjutan semakin terintegrasi dengan aktivitas ekonomi dan strategi perusahaan.
Dalam konteks tersebut, TJSL juga perlu ditempatkan secara lebih strategis.
Program sosial perusahaan tidak cukup hanya memiliki kegiatan yang terlihat baik. Program perlu memiliki tujuan yang jelas dan indikator dampak yang terukur.
Selain itu, program harus relevan dengan kebutuhan masyarakat. Program juga perlu memiliki keterkaitan dengan agenda keberlanjutan perusahaan.
Contoh Sederhana Perubahan dari Charity ke CSV
Misalnya, sebuah perusahaan memberikan bantuan modal kepada kelompok UMKM.
Dalam pendekatan charity, program dapat berhenti setelah modal diberikan.
Sementara itu, pendekatan CSV dapat mengembangkan program secara lebih menyeluruh.
Alurnya dapat berupa:
Modal → Pelatihan → Pendampingan → Penguatan produk → Akses pasar → Peningkatan pendapatan → Kemandirian usaha
Pada saat yang sama, perusahaan juga dapat memperoleh manfaat dari program tersebut.
Manfaatnya dapat berupa penguatan hubungan dengan masyarakat dan pengembangan rantai nilai. Program juga dapat mendukung reputasi perusahaan serta target keberlanjutan.
Di sinilah konsep Creating Shared Value menjadi relevan.
Masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dan peningkatan kapasitas. Perusahaan juga memperoleh nilai yang dapat mendukung keberlanjutan bisnis.
Apa yang Perlu Disiapkan Perusahaan?
Perusahaan yang ingin mengembangkan TJSL berbasis CSV perlu mempersiapkan beberapa hal.
Pertama, perusahaan perlu memiliki pemetaan kebutuhan masyarakat yang akurat.
Kedua, program perlu memiliki tujuan dan indikator keberhasilan yang jelas.
Ketiga, perusahaan perlu menentukan hubungan antara program dengan strategi bisnis dan keberlanjutan.
Keempat, masyarakat perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan.
Kelima, perusahaan perlu menyiapkan sistem monitoring dan evaluasi.
Terakhir, strategi exit juga perlu dipikirkan sejak awal.
Program yang baik bukan program yang membuat masyarakat terus bergantung pada perusahaan.
Sebaliknya, program yang baik adalah program yang meningkatkan kapasitas masyarakat. Pada akhirnya, masyarakat diharapkan mampu melanjutkan manfaat program secara mandiri.
Saatnya Mengubah Cara Pandang terhadap TJSL
Perkembangan TJSL menunjukkan bahwa program sosial perusahaan semakin membutuhkan pendekatan yang strategis.
Charity tetap penting sebagai bentuk kepedulian dan respons terhadap kondisi tertentu. Namun, perusahaan membutuhkan pendekatan yang lebih partisipatif untuk menghasilkan dampak jangka panjang.
Creating Shared Value dapat menjadi salah satu pendekatan untuk menjembatani kepentingan perusahaan dengan kebutuhan masyarakat.
Penerapannya dapat dimulai dari pemetaan kebutuhan dan pengembangan potensi lokal. Selanjutnya, perusahaan dapat memanfaatkan kompetensinya untuk memperkuat kapasitas masyarakat.
Pengukuran dampak juga perlu dilakukan secara berkala. Dengan cara ini, perusahaan dapat melihat perubahan yang dihasilkan oleh program.
Pada akhirnya, keberhasilan TJSL bukan hanya tentang berapa banyak dana yang disalurkan.
Yang lebih penting adalah seberapa besar perubahan yang dapat diciptakan. Selain itu, perusahaan perlu memastikan bahwa manfaat tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang.





