Instalasi Hidroponik sebagai Strategi Program TJSL Berkelanjutan AirNav Indonesia di Banjarbaru

Instalasi Hidroponik sebagai Strategi Program TJSL Berkelanjutan AirNav Indonesia di Banjarbaru

Instalasi hidroponik kini menjadi salah satu inovasi yang banyak diterapkan dalam program Corporate Social Responsibility (CSR) dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Teknologi budidaya tanpa tanah ini mampu meningkatkan produktivitas pertanian. Selain itu, hidroponik juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui sistem pertanian yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Komitmen tersebut diwujudkan oleh AirNav Indonesia melalui Program TJSL Kampung BETTER AirNav Banjarbaru Tahun 2024. Program ini mengembangkan kawasan Integrated Farming di Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Program dirancang sebagai model pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, pelatihan, serta penguatan kapasitas masyarakat. Dengan demikian, manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Selain itu, program ini mendukung implementasi Program TJSL yang selaras dengan kebijakan Kementerian BUMN Republik Indonesia. Program juga berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Indonesia, serta mengacu pada prinsip-prinsip ISO 26000 tentang Tanggung Jawab Sosial.

Green House Modern dengan Instalasi Hidroponik NFT

Salah satu fasilitas utama dalam program ini adalah pembangunan green house hidroponik berukuran 20 × 10 meter. Selain itu, tersedia ruang penyimpanan alat berukuran 3 × 4 meter. Green house menggunakan rangka baja ringan, penutup atap plastik UV, serta dinding insect net. Oleh karena itu, tanaman terlindungi dari cuaca ekstrem maupun serangan hama.

Di dalam green house diterapkan metode Nutrient Film Technique (NFT). Metode ini mengalirkan larutan nutrisi secara terus-menerus ke akar tanaman. Hasilnya, penggunaan air menjadi lebih hemat, nutrisi lebih efisien, dan pertumbuhan tanaman berlangsung lebih cepat dibandingkan budidaya konvensional.

Instalasi hidroponik yang dibangun terdiri atas:

  • 1 meja persemaian sistem NFT.
  • 1 meja peremajaan dengan kapasitas 860 lubang tanam.
  • 6 meja pembesaran dengan total 1.200 lubang tanam.
  • Instalasi drip system untuk budidaya melon dan semangka.
  • Budidaya sayuran hidroponik berupa selada dan pakcoy.

Secara keseluruhan, fasilitas ini memiliki kapasitas lebih dari 2.000 lubang tanam. Karena itu, green house menjadi sarana produksi pertanian modern sekaligus media pembelajaran bagi masyarakat.

Pembangunan Dilaksanakan Secara Bertahap

Pembangunan instalasi hidroponik tidak hanya berfokus pada penyediaan sarana fisik. Namun, seluruh sistem juga dipastikan dapat berfungsi secara optimal.

Tahapan pembangunan dimulai dari pemasangan rangka greenhouse. Selanjutnya dilakukan pemasangan plastik UV dan insect net, pembangunan ruang penyimpanan alat, hingga instalasi sistem NFT dan drip system.

Seluruh meja persemaian, peremajaan, dan pembesaran berhasil dirakit sesuai desain. Setelah itu, sistem irigasi dan distribusi nutrisi diuji sehingga mampu mengalirkan nutrisi secara merata ke seluruh lubang tanam.

Progress pembangunan dilakukan secara bertahap mulai dari 0%, 25%, 50%, 85%, hingga mencapai penyelesaian 100%.

Persiapan Budidaya Hidroponik

Setelah pembangunan selesai, program dilanjutkan dengan persiapan budidaya tanaman.

Bibit selada, pakcoy, melon, dan semangka mulai disemai menggunakan media arang sekam. Media tersebut ditempatkan pada 48 planter bag berkapasitas 25 liter.

Selanjutnya, tanaman memperoleh nutrisi menggunakan larutan AB Mix. Dengan demikian, pertumbuhan tanaman dapat berlangsung secara optimal sesuai kebutuhan setiap komoditas.

Selain sistem hidroponik, kawasan integrated farming juga dilengkapi sumur gali, pompa air, jaringan listrik, dan berbagai peralatan pertanian. Fasilitas tersebut mendukung keberlanjutan operasional kawasan.

Penguatan Kapasitas Melalui Pelatihan Hidroponik

Keberhasilan instalasi hidroponik tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur. Sebaliknya, kemampuan masyarakat dalam mengelola fasilitas juga menjadi faktor penting.

Oleh sebab itu, AirNav Indonesia menyelenggarakan Pelatihan Strategi Integrated Farming. Pelatihan ini membahas teknik dasar hidroponik, pertanian organik, pengolahan pupuk, teknik penyemaian, penggunaan TDS meter, pH meter, hingga pembuatan larutan nutrisi tanaman.

Melalui pelatihan tersebut, masyarakat tidak hanya menerima bantuan fisik. Mereka juga memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan ekonomi keluarga.

Peran PT Sinergi Inta Waana sebagai Konsultan CSR dan TJSL

Keberhasilan Program Kampung BETTER AirNav Banjarbaru tidak terlepas dari pendampingan PT Sinergi Inta Waana sebagai konsultan CSR dan TJSL.

Tim pendamping mendukung penyusunan konsep program, perencanaan kegiatan, koordinasi dengan para pemangku kepentingan, pembangunan sarana dan prasarana, pelaksanaan pelatihan, monitoring, hingga evaluasi program.

Selain itu, tim memastikan seluruh kegiatan berjalan sesuai indikator kinerja yang telah ditetapkan.

Hasilnya, seluruh Key Performance Indicator (KPI) Program Kampung BETTER AirNav Banjarbaru berhasil direalisasikan 100%. Capaian tersebut meliputi pendampingan program, pengadaan sarana dan prasarana integrated farming, pelatihan strategi integrated farming, serta monitoring dan evaluasi.

Mendorong ESG dan Pembangunan Berkelanjutan

Program instalasi hidroponik ini menunjukkan bahwa implementasi TJSL tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek. Lebih dari itu, program juga mendukung penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Di samping itu, program berkontribusi terhadap beberapa tujuan  Sustainable Development Goals (SDGs).

Kontribusi tersebut mencakup penghapusan kemiskinan, ketahanan pangan, pekerjaan layak, konsumsi dan produksi berkelanjutan, aksi iklim, serta pelestarian ekosistem daratan.

Dengan demikian, Kampung BETTER AirNav Banjarbaru menjadi contoh program CSR yang dirancang secara terukur. Program ini memadukan teknologi pertanian modern dengan pendampingan berkelanjutan sehingga mampu menciptakan dampak sosial yang lebih luas dan memperkuat kemandirian masyarakat.

Bagi perusahaan yang ingin mengembangkan program CSR, TJSL, ESG, community development, maupun pertanian berkelanjutan berbasis hidroponik dan integrated farming, PT Sinergi Inta Waana siap menjadi mitra strategis. Layanan yang tersedia meliputi social mapping, perencanaan program, implementasi, monitoring, evaluasi dampak sosial, hingga penyusunan roadmap keberlanjutan yang selaras dengan kebutuhan perusahaan dan masyarakat.

Pembangunan Green House Program TJSL AirNav Indonesia Tahun 2024

Pembangunan Green House Program TJSL AirNav Indonesia Tahun 2024

Pembangunan Green House menjadi salah satu inisiatif utama dalam Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) AirNav Indonesia pada tahun 2024. Program ini merupakan bagian dari Kampung BETTER AirNav Banjarbaru, sebuah program pemberdayaan masyarakat yang mengembangkan konsep Integrated Farming untuk meningkatkan ketahanan pangan, memperkuat ekonomi masyarakat, dan mendorong praktik pertanian berkelanjutan. Program dilaksanakan di Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan selama periode Juli hingga Desember 2024.

Mengapa Pembangunan Green House Dibutuhkan?

Pembangunan Green House dilakukan untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat, mulai dari perubahan iklim, keterbatasan lahan produktif, hingga kebutuhan akan sistem pertanian yang lebih efisien. Green House mampu menciptakan lingkungan tanam yang lebih stabil sehingga tanaman terlindungi dari cuaca ekstrem, serangan hama, dan perubahan suhu yang dapat menurunkan produktivitas.

Melalui fasilitas ini, masyarakat memperoleh sarana budidaya modern yang mampu meningkatkan kualitas hasil panen sekaligus menjadi media pembelajaran mengenai praktik pertanian berkelanjutan.

Green House sebagai Sarana Pertanian Berkelanjutan

Pembangunan Green House merupakan investasi jangka panjang yang mendukung pengembangan pertanian modern. Berbeda dengan metode budidaya terbuka, Green House memberikan pengendalian lingkungan yang lebih baik sehingga proses produksi menjadi lebih optimal.

Keberadaan Green House juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi dengan kualitas yang lebih konsisten. Selain meningkatkan produktivitas, fasilitas ini juga menjadi pusat edukasi bagi kelompok tani dalam menerapkan teknologi pertanian yang lebih efisien.

Spesifikasi Pembangunan Green House

Green House yang dibangun melalui Program TJSL AirNav Indonesia memiliki spesifikasi yang dirancang untuk mendukung kegiatan budidaya secara optimal, meliputi:

  • Green House berukuran 20 × 10 meter.
  • Ruang penyimpanan alat berukuran 3 × 4 meter.
  • Rangka menggunakan baja ringan yang kuat dan tahan lama.
  • Atap menggunakan plastik UV untuk menjaga intensitas cahaya.
  • Dinding menggunakan insect net sebagai pelindung dari hama.
  • Dilengkapi dua pintu geser untuk memudahkan aktivitas operasional.

Spesifikasi tersebut dipilih agar Green House mampu digunakan dalam jangka panjang dengan biaya pemeliharaan yang efisien.

Tahapan Pembangunan Green House

Pembangunan Green House dilaksanakan secara bertahap agar seluruh fasilitas memenuhi standar operasional pertanian modern.

Tahapan pekerjaan meliputi:

  • persiapan lokasi pembangunan;


  • pemasangan rangka baja ringan;
  • pemasangan atap plastik UV;
  • pemasangan dinding insect net;
  • pembangunan ruang penyimpanan alat;
  • pemasangan pintu akses;
  • pengujian kelayakan bangunan sebelum digunakan masyarakat.

Seluruh proses pembangunan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keamanan, ketahanan konstruksi, dan kebutuhan operasional kelompok tani.

Manfaat Pembangunan Green House bagi Masyarakat

Pembangunan Green House memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat, antara lain:

  • meningkatkan produktivitas pertanian;
  • menjaga kualitas hasil panen;
  • mengurangi risiko gagal panen akibat cuaca;
  • meningkatkan keterampilan masyarakat dalam pertanian modern;
  • memperkuat ketahanan pangan lokal;
  • menciptakan peluang usaha baru berbasis pertanian.

Keberadaan Green House juga menjadi fondasi bagi pengembangan inovasi pertanian pada tahap berikutnya sehingga masyarakat memiliki kesempatan untuk meningkatkan nilai tambah hasil produksi.

PT Sinergi Inta Waana sebagai Konsultan CSR dan TJSL

Keberhasilan pembangunan Green House tidak terlepas dari pendampingan PT Sinergi Inta Waana sebagai konsultan CSR dan TJSL.

Pendampingan dilakukan secara menyeluruh melalui:

Pendekatan tersebut memastikan bahwa pembangunan Green House tidak berhenti pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga mendorong terciptanya kemandirian masyarakat dalam mengelola program secara berkelanjutan.

Pembangunan Green House Selaras dengan ISO 26000

Pembangunan Green House dalam Program TJSL AirNav Indonesia Tahun 2024 dirancang selaras dengan prinsip-prinsip ISO 26000 sebagai pedoman internasional mengenai tanggung jawab sosial organisasi. Program ini tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga mengedepankan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, pelibatan pemangku kepentingan, serta penciptaan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.

Melalui pendampingan PT Sinergi Inta Waana, program mengintegrasikan proses perencanaan, implementasi, monitoring, dan evaluasi sehingga mencerminkan penerapan prinsip akuntabilitas, transparansi, perilaku etis, serta pengembangan masyarakat sebagaimana direkomendasikan dalam ISO 26000.

Mendukung ESG dan SDGs

Pembangunan Green House juga mendukung implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui pengelolaan sumber daya yang lebih efisien dan pemberdayaan masyarakat.

Selain itu, program ini berkontribusi terhadap beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu:

  • SDG 1 Tanpa Kemiskinan;
  • SDG 2 Tanpa Kelaparan;
  • SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi;
  • SDG 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab;
  • SDG 13 Penanganan Perubahan Iklim;
  • SDG 15 Ekosistem Daratan.

Dampak Program Tahun 2024

Selama pelaksanaan program, pembangunan Green House berhasil menjadi salah satu fasilitas utama yang mendukung pengembangan kawasan pertanian terpadu di Banjarbaru.

Program juga berhasil mencapai seluruh indikator kinerja (KPI) yang meliputi pendampingan, pengadaan sarana dan prasarana, pelatihan, serta monitoring dan evaluasi dengan tingkat realisasi 100%.

Penutup

Pembangunan Green House dalam Program TJSL AirNav Indonesia Tahun 2024 membuktikan bahwa program CSR dan TJSL dapat memberikan dampak yang nyata apabila dirancang secara komprehensif. Melalui kolaborasi antara AirNav Indonesia dan PT Sinergi Inta Waana sebagai konsultan CSR dan TJSL, program ini menghadirkan fasilitas pertanian modern yang mendukung ketahanan pangan, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta memperkuat praktik pembangunan berkelanjutan.

Pembangunan Green House juga menunjukkan implementasi TJSL yang selaras dengan prinsip-prinsip ISO 26000, mendukung pencapaian ESG dan SDGs, sehingga manfaat program tidak hanya dirasakan pada saat pembangunan berlangsung, tetapi juga memberikan nilai tambah sosial, ekonomi, dan lingkungan dalam jangka panjang.