ISO 26000 vs GRI vs SDGs: Apa Perbedaannya dalam Program CSR dan TJSL?

ISO 26000 vs GRI vs SDGs: Apa Perbedaannya dalam Program CSR dan TJSL?

ISO 26000 vs GRI vs SDGs merupakan topik yang sering dibahas dalam implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Ketiga kerangka tersebut sama-sama mendukung pembangunan berkelanjutan, tetapi memiliki fungsi dan tujuan yang berbeda.

Masih banyak perusahaan yang menganggap ISO 26000, Global Reporting Initiative (GRI), dan Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai standar yang sama. Padahal, masing-masing memiliki peran yang saling melengkapi. Dengan memahami perbedaannya, perusahaan dapat merancang, melaksanakan, dan melaporkan program CSR secara lebih terarah dan berdampak.

Apa Itu ISO 26000?

ISO 26000 adalah standar internasional yang memberikan panduan mengenai tanggung jawab sosial organisasi. Berbeda dengan standar ISO lainnya, ISO 26000 tidak digunakan untuk sertifikasi, melainkan sebagai pedoman dalam menerapkan praktik tanggung jawab sosial yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

ISO 26000 diterbitkan oleh International Organization for Standardization (ISO) dan mencakup tujuh subjek inti, yaitu:

  • Tata kelola organisasi.
  • Hak asasi manusia.
  • Praktik ketenagakerjaan.
  • Lingkungan.
  • Praktik operasi yang adil.
  • Isu konsumen.
  • Pelibatan dan pengembangan masyarakat.

Melalui panduan tersebut, perusahaan dapat menyusun strategi CSR yang lebih sistematis dan sesuai dengan prinsip keberlanjutan.

Referensi: https://www.iso.org/iso-26000-social-responsibility.html

Apa Itu GRI?

Global Reporting Initiative (GRI) adalah standar pelaporan keberlanjutan yang membantu perusahaan mengungkapkan kinerja ekonomi, sosial, dan lingkungan secara transparan.

Jika ISO 26000 berfungsi sebagai pedoman implementasi tanggung jawab sosial, maka GRI berfokus pada bagaimana perusahaan melaporkan hasil pelaksanaan program keberlanjutan kepada para pemangku kepentingan.

Melalui GRI, perusahaan dapat menyusun Sustainability Report yang lebih terstruktur, kredibel, dan mudah dibandingkan antarperiode.

Referensi: https://www.globalreporting.org/

Apa Itu SDGs?

Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang disusun oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tujuan ini menjadi agenda global untuk mengatasi berbagai tantangan, seperti kemiskinan, perubahan iklim, pendidikan, kesehatan, hingga pertumbuhan ekonomi.

Dalam implementasi CSR dan TJSL, SDGs berfungsi sebagai arah atau tujuan yang ingin dicapai melalui berbagai program perusahaan.

Contohnya, program pemberdayaan UMKM dapat mendukung SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), sedangkan program konservasi lingkungan dapat berkontribusi pada SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

Referensi: https://sdgs.un.org/goals

Perbedaan ISO 26000, GRI, dan SDGs

Walaupun sering digunakan secara bersamaan, ISO 26000, GRI, dan SDGs memiliki fungsi yang berbeda.

AspekISO 26000GRISDGs
FungsiPedoman tanggung jawab sosialStandar pelaporan keberlanjutanAgenda pembangunan global
FokusImplementasi CSRPelaporan kinerjaTujuan pembangunan
PenerbitISOGlobal Reporting InitiativePerserikatan Bangsa-Bangsa
SertifikasiTidakTidakTidak
PenggunaOrganisasiOrganisasiPemerintah, organisasi, perusahaan

Dengan memahami perbedaan tersebut, perusahaan dapat menentukan kerangka kerja yang sesuai dengan kebutuhan program.

Bagaimana Hubungan ISO 26000, GRI, dan SDGs?

ISO 26000, GRI, dan SDGs bukanlah kerangka yang saling menggantikan. Sebaliknya, ketiganya dapat digunakan secara bersamaan untuk memperkuat implementasi CSR dan TJSL.

Sebagai contoh:

  • ISO 26000 membantu perusahaan menyusun strategi dan pelaksanaan program.
  • SDGs menjadi tujuan pembangunan yang ingin dicapai.
  • GRI digunakan untuk melaporkan hasil implementasi program kepada para pemangku kepentingan.

Dengan pendekatan tersebut, perusahaan tidak hanya memiliki program yang terarah, tetapi juga mampu menunjukkan dampak dan akuntabilitas secara transparan.

Mengapa Ketiga Kerangka Ini Penting?

Saat ini, perusahaan menghadapi tuntutan yang semakin besar untuk menjalankan bisnis secara bertanggung jawab. Oleh karena itu, implementasi CSR tidak lagi hanya berfokus pada kegiatan sosial, tetapi juga harus memberikan manfaat yang terukur bagi masyarakat, lingkungan, dan perusahaan.

Menggunakan ISO 26000, GRI, dan SDGs secara terpadu memberikan beberapa manfaat, antara lain:

  • meningkatkan kualitas perencanaan program;
  • memperkuat tata kelola CSR;
  • mempermudah penyusunan Sustainability Report;
  • mendukung implementasi ESG;
  • meningkatkan kepercayaan para pemangku kepentingan.

Hubungan dengan Program CSR dan TJSL

Dalam praktiknya, perusahaan dapat mengintegrasikan ketiga kerangka tersebut ke dalam setiap tahapan Program CSR dan TJSL.

Sebagai contoh, proses social mapping digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan masyarakat. Selanjutnya, program dirancang mengacu pada prinsip ISO 26000, diselaraskan dengan target SDGs, dan hasilnya dilaporkan menggunakan standar GRI.

Pendekatan tersebut membantu perusahaan menciptakan program yang lebih tepat sasaran, terukur, dan berkelanjutan.

Baca juga: Social Mapping sebagai Fondasi Keberhasilan Program CSR dan TJSL
https://sinergiindonesia.co.id/social-mapping-csr-tjsl/

Baca juga: Outcome vs Output dalam Program CSR dan TJSL
https://sinergiindonesia.co.id/outcome-vs-output-program-csr/

Peran PT Sinergi Inta Waana dalam Implementasi CSR Berkelanjutan

Mengintegrasikan ISO 26000, GRI, dan SDGs memerlukan pemahaman yang baik terhadap kondisi masyarakat, tujuan perusahaan, serta indikator keberhasilan program.

ISO 26000 memberikan pedoman implementasi tanggung jawab sosial. GRI membantu perusahaan melaporkan kinerja keberlanjutan secara transparan. Sementara itu, SDGs menjadi arah pembangunan yang ingin dicapai melalui berbagai program.

Dengan mengintegrasikan ketiga kerangka tersebut, perusahaan dapat meningkatkan kualitas perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, dan evaluasi Program CSR sehingga mampu menciptakan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan.

Sebagai konsultan CSR dan TJSL, PT Sinergi Inta Waana mendampingi perusahaan mulai dari social mapping, penyusunan masterplan CSR, penyelarasan program dengan SDGs, implementasi berdasarkan prinsip ISO 26000, hingga penyusunan indikator dan evaluasi dampak sosial.