Perubahan iklim semakin terasa melalui cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, kenaikan suhu, dan perubahan musim. Karena itu, peran CSR perusahaan semakin penting untuk membantu masyarakat dan lingkungan menghadapi dampaknya.
Di Indonesia, risiko bencana hidrometeorologi juga menjadi perhatian. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa sebagian besar kejadian bencana pada periode tertentu didominasi oleh bencana hidrometeorologi seperti banjir, kekeringan, dan cuaca ekstrem.
Sementara itu, BMKG terus memantau perubahan kondisi iklim, cuaca ekstrem, dan risiko yang berkaitan dengan perubahan iklim di Indonesia.
Apa peran CSR perusahaan dalam menghadapi perubahan iklim?
Selama ini, CSR sering dikenal melalui kegiatan sosial dan lingkungan. Contohnya adalah bantuan masyarakat, penanaman pohon, pengelolaan sampah, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan tersebut tetap penting.
Namun, perubahan iklim membutuhkan pendekatan yang lebih panjang. CSR perusahaan dapat diarahkan untuk membantu masyarakat dan lingkungan agar lebih siap menghadapi risiko serta mampu pulih ketika terjadi gangguan.
Dengan pendekatan tersebut, CSR tidak hanya menjadi kegiatan bantuan. CSR juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan masyarakat dan lingkungan terhadap perubahan iklim.
Apa Itu Perubahan Iklim?
Perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang pada suhu, curah hujan, dan pola cuaca. Dampaknya dapat dirasakan petani, masyarakat pesisir, dan perkotaan. Karena itu, perubahan iklim bukan hanya persoalan lingkungan.
Perubahan iklim juga berkaitan dengan masyarakat, ekonomi, kesehatan, dan keberlanjutan usaha.
Menurut IPCC, ketahanan atau resilience berkaitan dengan kemampuan sistem sosial, ekonomi, dan lingkungan untuk menghadapi gangguan, beradaptasi, serta tetap menjalankan fungsi pentingnya.
Konsep inilah yang kemudian dikenal sebagai climate resilience atau ketahanan terhadap perubahan iklim.
Mengapa Perubahan Iklim Relevan dengan CSR?
CSR pada dasarnya tidak hanya berbicara tentang pemberian bantuan.
Beberapa bentuk CSR perusahaan dalam menghadapi perubahan iklim dapat dilakukan melalui:
- edukasi kesiapsiagaan bencana;
- pengelolaan sumber daya air;
- konservasi lingkungan;
- rehabilitasi ekosistem;
- pertanian berkelanjutan;
- penguatan UMKM;
- pengembangan mata pencaharian alternatif; dan
- peningkatan kapasitas masyarakat.
Dengan demikian, CSR tidak hanya hadir ketika masalah sudah terjadi.
CSR juga dapat membantu mencegah, mengurangi, dan mengelola risiko perubahan iklim.
Pendekatan ini membuat program CSR menjadi lebih strategis dan memiliki manfaat jangka panjang.
CSR Tidak Harus Menunggu Bencana
Ketika banjir atau kekeringan terjadi, perusahaan dapat memberikan bantuan kepada masyarakat. Namun, jika masalah terus berulang, CSR perlu menyasar akar persoalan. Misalnya, melalui konservasi sumber mata air, pengelolaan air, edukasi, dan pengembangan sumber penghidupan yang sesuai dengan kondisi lingkungan
Pendekatan seperti ini membuat CSR bergerak dari bantuan jangka pendek menuju ketahanan jangka panjang.
Dengan kata lain, CSR tidak hanya merespons dampak perubahan iklim. Program CSR juga dapat membantu masyarakat mempersiapkan diri menghadapi risiko di masa depan.
Langkah Pertama: Memahami Kondisi Masyarakat
Program CSR yang baik sebaiknya dimulai dengan memahami kondisi masyarakat.
Perusahaan perlu mengetahui:
- masalah utama masyarakat;
- kelompok yang paling rentan;
- potensi wilayah;
- sumber penghidupan;
- kondisi lingkungan;
- stakeholder yang terlibat; dan
- risiko yang mungkin terjadi.
Salah satu metode yang dapat digunakan adalah social mapping.
Melalui Social Mapping untuk Program CSR dan TJSL, perusahaan dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi sosial, ekonomi, kebutuhan masyarakat, stakeholder, serta potensi wilayah sebelum menentukan program.
CSR dan Perubahan Iklim Perlu Berbasis Data
Dampak perubahan iklim berbeda di setiap wilayah. Karena itu, program CSR perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Perusahaan dapat melakukan need assessment untuk menentukan program yang tepat.
Melalui Need Assessment Program CSR, perusahaan dapat mengidentifikasi kebutuhan masyarakat melalui survei, wawancara, FGD, analisis data, dan penyusunan rekomendasi program.
Hasil assessment menjadi dasar penentuan prioritas program. Pendekatan berbasis data membantu perusahaan menyusun CSR yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan risiko perubahan iklim.
Membangun Ketahanan Masyarakat
Masyarakat perlu memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sumber daya untuk menghadapi perubahan kondisi lingkungan.
Program dapat dilakukan melalui:
- pelatihan kesiapsiagaan bencana;
- edukasi lingkungan;
- penguatan kelompok masyarakat;
- pelatihan pertanian adaptif;
- pengelolaan air;
- pengembangan usaha alternatif; dan
- pendampingan UMKM.
Tujuannya bukan membuat masyarakat terbebas dari risiko.
Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menghadapi dan beradaptasi terhadap risiko perubahan iklim.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep climate-resilient development, yang mengintegrasikan adaptasi perubahan iklim dengan pembangunan berkelanjutan.
Menjaga Lingkungan melalui Program CSR
CSR lingkungan juga dapat menjadi bagian dari strategi menghadapi perubahan iklim.
Perusahaan dapat mengembangkan program seperti:
- rehabilitasi mangrove;
- perlindungan sumber mata air;
- penghijauan;
- pemulihan ekosistem;
- pengelolaan sampah;
- konservasi hutan;
- pertanian berkelanjutan; dan
- perlindungan kawasan pesisir.
Program lingkungan tidak cukup diukur dari jumlah kegiatan atau bibit yang ditanam. Perusahaan juga perlu melihat tingkat keberlangsungan tanaman, perubahan kondisi lingkungan, dan manfaat program bagi masyarakat.
Dengan kata lain:
Bukan hanya berapa banyak yang dilakukan, tetapi apa yang berubah setelah program dilakukan.
Memperkuat Ekonomi Masyarakat
Perubahan iklim dapat memengaruhi pendapatan masyarakat. Petani berisiko gagal panen, nelayan menghadapi perubahan kondisi laut, dan UMKM dapat kehilangan pendapatan akibat bencana.
Karena itu, CSR dapat diarahkan untuk membangun ketahanan ekonomi masyarakat.
Program dapat mencakup:
- pengembangan UMKM;
- peningkatan keterampilan;
- diversifikasi usaha;
- pengembangan produk lokal;
- akses pasar; dan
- pendampingan usaha.
Diversifikasi sumber pendapatan membantu masyarakat lebih siap menghadapi perubahan ekonomi dan mengembangkan mata pencaharian yang adaptif terhadap perubahan lingkungan.
Dari Kegiatan CSR ke Dampak Nyata
Keberhasilan CSR tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan. Perusahaan perlu melihat output, outcome, dan impact untuk mengetahui hasil serta dampak program bagi masyarakat.
Perusahaan dapat menggunakan Theory of Change untuk menjelaskan hubungan antara kegiatan yang dilakukan dengan perubahan yang ingin dicapai.
Mengukur Keberhasilan Program CSR
Setelah program berjalan, perusahaan perlu melakukan monitoring dan evaluasi. SROI dapat digunakan untuk mengukur manfaat sosial dan lingkungan. Dengan pengukuran yang tepat, perusahaan dapat menilai keberhasilan program dan melakukan perbaikan.
CSR, ESG, dan Perubahan Iklim
Mengapa Kolaborasi Penting?
Perusahaan tidak dapat menghadapi perubahan iklim sendirian. Karena itu, program CSR perlu melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, komunitas, dan organisasi sosial. Kolaborasi membantu menggabungkan sumber daya, pengetahuan, serta pengalaman berbagai pihak. Dengan pendekatan ini, program dapat lebih tepat sasaran, memperkuat kapasitas lokal, dan berkelanjutan.
Peran PT Sinergi Inta Waana sebagai Konsultan CSR dan TJSL
CSR Perlu Melihat Masa Depan
Penutup
Perubahan iklim berdampak pada lingkungan, masyarakat, ekonomi, dan mata pencaharian. Melalui CSR dan TJSL, perusahaan dapat mendukung penguatan masyarakat, perlindungan lingkungan, ketahanan ekonomi, dan pengukuran dampak.
Pendekatan climate resilience membantu CSR tidak hanya merespons masalah, tetapi juga membangun kesiapan menghadapi risiko di masa depan.
Pada akhirnya, keberhasilan CSR bukan sekadar jumlah kegiatan, melainkan dampak positif yang berkelanjutan.
PT Sinergi Inta Waana siap menjadi mitra strategis BUMN dan perusahaan swasta dalam merancang serta mengukur program CSR/TJSL yang tepat sasaran dan berkelanjutan.





