Menanam Harapan dari Balik Greenhouse: Pelatihan Budidaya Sayuran dalam Program Pelita Warna 2025

Menanam Harapan dari Balik Greenhouse: Pelatihan Budidaya Sayuran dalam Program Pelita Warna 2025

Sebagai bagian dari komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan dan pemberdayaan kelompok rentan, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BUMN Pelita Warna 2025 menghadirkan program pelatihan budidaya tanaman sayuran berbasis greenhouse bagi anak binaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Jakarta.

Program ini dirancang tidak hanya sebagai kegiatan pelatihan teknis, tetapi juga sebagai sarana membangun kemandirian, kedisiplinan, serta harapan baru bagi anak-anak yang tengah menjalani masa pembinaan.

Greenhouse sebagai Ruang Belajar dan Pemberdayaan

Pembangunan greenhouse menjadi fondasi utama dalam pelaksanaan program pertanian berkelanjutan di LPKA Kelas II Jakarta. Fasilitas ini dibangun menggunakan konstruksi baja ringan yang dilengkapi dengan sistem ventilasi dan irigasi untuk menjaga kestabilan suhu serta kelembaban, sehingga mendukung proses budidaya tanaman sayuran secara optimal.

Greenhouse ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana produksi, tetapi juga sebagai laboratorium pembelajaran langsung bagi anak binaan untuk mengenal praktik pertanian modern yang ramah lingkungan. Berbagai sarana pendukung turut disediakan, mulai dari media tanam dan polybag, peralatan kebun, pupuk dan nutrisi tanaman, hingga bibit sayuran sebagai bahan praktik pembelajaran.

Pelatihan Budidaya Sayuran: Dari Teori ke Praktik

Seiring dengan pembangunan greenhouse, Program Pelita Warna 2025 juga menyelenggarakan Training Bertanam Sayuran Organik, yang diikuti oleh anak-anak binaan dengan pendampingan tenaga pelatih berpengalaman. Pelatihan ini membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan teknis mulai dari pengenalan media tanam, penanaman bibit, perawatan tanaman, hingga pemeliharaan dan pengelolaan hasil panen.

Melalui metode pembelajaran praktik langsung, anak binaan dilatih untuk bertanggung jawab terhadap tanaman yang mereka kelola, menumbuhkan rasa kepemilikan, serta membangun sikap kerja yang tekun dan produktif. Aktivitas ini juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya kemandirian pangan dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Dampak Sosial dan Lingkungan yang Berkelanjutan

Program pelatihan budidaya sayuran berbasis greenhouse memberikan manfaat multidimensi. Bagi anak binaan, program ini menjadi bekal keterampilan siap kerja yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang usaha maupun lapangan pekerjaan setelah mereka kembali ke masyarakat. Bagi lingkungan LPKA, keberadaan greenhouse turut mendukung terciptanya ruang hijau produktif yang sehat dan edukatif.

Lebih jauh, program ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam mendukung pendidikan berkualitas, pekerjaan layak, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta pembangunan lingkungan berkelanjutan.

Menumbuhkan Masa Depan yang Lebih Baik

Melalui pendekatan pelatihan berbasis praktik dan penyediaan sarana pertanian modern, Program TJSL BUMN Pelita Warna 2025 membuktikan bahwa proses pembinaan dapat menjadi ruang transformasi yang bermakna. Dari balik greenhouse, anak-anak binaan tidak hanya belajar menanam sayuran, tetapi juga menanam harapan, kemandirian, dan masa depan yang lebih baik.

PT Pelindo Dorong Keterampilan Barbershop di Program BUMN Pelita Warna 2025 LPKA Kelas II Jakarta

PT Pelindo Dorong Keterampilan Barbershop di Program BUMN Pelita Warna 2025 LPKA Kelas II Jakarta

Program BUMN Pelita Warna merupakan inisiatif Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang diinisiasi oleh PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau PT Pelindo (Persero) sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam mendorong pemberdayaan dan pembinaan kelompok rentan, termasuk anak binaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Pada tahun 2025, program ini dilaksanakan di LPKA Kelas II Jakarta dengan fokus pada penguatan keterampilan vokasional yang aplikatif dan berkelanjutan, salah satunya melalui pelatihan keterampilan barbershop, sebagai bekal kemandirian ekonomi dan kesiapan reintegrasi sosial bagi anak-anak binaan setelah menyelesaikan masa pembinaan.

Antusiasme Anak Binaan: Semangat Belajar yang Nyata

Kegiatan pendampingan keterampilan barbershop pada Program BUMN Pelita Warna 2025 menunjukkan bahwa anak-anak binaan di LPKA Kelas II Jakarta memiliki antusiasme tinggi dan motivasi kuat untuk mengikuti pelatihan vokasional. Selama pelatihan, peserta tampak aktif mengikuti demo, praktik teknik dasar hingga teknik lanjutan seperti fade dan scissor-over-comb, serta berpartisipasi dalam sesi grooming dan layanan pelanggan. Hal ini mencerminkan energi positif yang memberi makna selama masa pembinaan.

Kurikulum dan Pelaksanaan: Dari Teori ke Praktik

Pendampingan Keterampilan Barbershop dirancang dalam 12 sesi yang komprehensif, menggabungkan penyampaian materi dan praktik langsung. Materi meliputi pengenalan alat, teknik clipper dan scissor, pondasi potongan (guide line/baseline), gradasi, lining/line-up, teknik pencucian dan pewarnaan dasar, hingga SOP pelayanan dan penanganan keluhan pelanggan. Di akhir rangkaian, peserta menjalani final test teori dan praktik untuk mengukur penguasaan kompetensi. Pelatihan ini dilaksanakan oleh tim pelatih profesional sehingga transfer skill berlangsung intensif dan terstruktur

Sarana & Prasarana: Fasilitas Praktik yang Memadai

Keberhasilan pelatihan tidak lepas dari dukungan sarana praktik. Program menyediakan 1 set alat peraga praktik potong rambut lengkap, termasuk kliper, gunting, sisir, kain cape, serta modul pelatihan dan materi pendukung. Ketersediaan alat ini memungkinkan peserta mendapatkan pengalaman praktik yang mendekati kondisi kerja nyata di barbershop, meningkatkan kesiapan teknis dan profesionalisme layanan.

Manfaat Jangka Pendek dan Panjang untuk Masa Depan Anak Binaan

Secara langsung, pelatihan barbershop memberi anak binaan keterampilan teknis yang aplikatif—kemampuan yang mudah dipasarkan dan potensial menjadi sumber pendapatan setelah reintegrasi sosial. Selain itu, latihan layanan pelanggan, hygiene, dan attitude memperkuat soft skill yang dibutuhkan dunia kerja. Secara psikososial, kegiatan produktif seperti ini meningkatkan rasa percaya diri, disiplin, dan harapan masa depan; aspek-aspek penting untuk menurunkan risiko residivisme dan membangun kehidupan yang lebih mandiri.

Kerja Sama PT Pelindo dan LPKA

Program ini merupakan hasil kolaborasi erat antara PT Pelabuhan Indonesia (PT Pelindo) dan LPKA Kelas II Jakarta, yang difasilitasi dan dikelola oleh Sinergi Indonesia sebagai pelaksana program TJSL. Kolaborasi tersebut menghadirkan kombinasi sumber daya: pendanaan dan komitmen perusahaan, kapabilitas pelatihan dari mitra profesional, serta akses dan dukungan kelembagaan dari pihak LPKA. Sinergi antara pihak-pihak ini memastikan program berjalan terkoordinasi dan menyasar kebutuhan riil anak binaan.

Komitmen Sinergi dan Kolaborasi: Keberlanjutan sebagai Fokus

Laporan akhir mencatat capaian pelaksanaan 100% untuk indikator Pendampingan Keterampilan Barbershop — sebuah tanda bahwa komitmen kolaboratif antara BUMN, lembaga pembinaan, dan konsultan pelaksana berjalan efektif. Komitmen ini juga meliputi penyediaan sertifikat peserta serta dokumentasi dan evaluasi yang membantu perencanaan tindak lanjut—misalnya peluang pendampingan wirausaha, inkubasi usaha mikro, atau pembentukan kemitraan kerja dengan barbershop lokal setelah anak binaan keluar.

Cerita Nyata: Belajar, Praktik, dan Harapan

Selama pelatihan terlihat banyak momen kecil yang bermakna: peserta yang awalnya ragu kemudian mampu menguasai teknik dasar, hingga peserta yang menunjukkan kepedulian membantu teman saat praktik. Cerita-cerita ini menjadi bukti bahwa pelatihan vokasional tidak hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga pembentukan karakter dan rasa tanggung jawab—komponen penting untuk reintegrasi sosial yang sukses.

Ajakan Kolaborasi: Bangun Dampak Bersama Sinergi Indonesia

Program Keterampilan Barbershop BUMN Pelita Warna 2025 di LPKA Kelas II Jakarta memperlihatkan bagaimana sinergi antara BUMN, lembaga pembinaan, dan pelaksana program dapat menciptakan dampak sosial nyata. Jika perusahaan Anda ingin merancang atau memperkuat program CSR/TJSL berbasis pelatihan vokasional yang berorientasi keberlanjutan — baik untuk pembinaan anak, pemberdayaan masyarakat, atau mitigasi risiko sosial — Sinergi Indonesia siap menjadi mitra konsultan yang membantu mulai dari desain program, pelaksanaan, hingga monitoring & evaluasi.

Untuk kolaborasi dan konsultasi, hubungi Sinergi Indonesia melalui contact@sinergiindonesia.co.id atau +62 812-1153-2810. Bersama, kita wujudkan peluang — bukan sekadar bantuan.

Program TJSL Ata Modo Dorong Pemberdayaan Terpadu di Pulau Komodo

Program TJSL Ata Modo Dorong Pemberdayaan Terpadu di Pulau Komodo

Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur — Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BUMN Ata Modo Tahun 2024 resmi dilaksanakan sebagai upaya kolaboratif dalam mendorong penguatan pendidikan, ekonomi masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan di Pulau Komodo.

Program ini merupakan hasil kerja sama antara PT Sinergi Inta Waana (Sinergi Indonesia) dengan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk serta Kolaborasi BUMN. Ata Modo menjadi kelanjutan dari rangkaian program TJSL sebelumnya yang telah dilaksanakan di kawasan Pulau Komodo, dengan fokus utama tahun 2024 pada pengembangan sumber daya manusia dan penguatan fondasi sosial masyarakat.

Fokus Pendidikan, Ekonomi, dan Lingkungan

Dalam pelaksanaannya, Program TJSL Ata Modo mencakup berbagai intervensi lintas sektor. Di bidang pendidikan, program ini melaksanakan bimbingan tes CPNS/PPPK bagi guru, bimbingan belajar bagi siswa SDN Pulau Komodo, pengadaan sarana dan prasarana TIK, olahraga, dan seni, serta pembangunan SMK Restorasi Pulau Komodo.

Di sektor ekonomi, program memberikan dukungan kepada pelaku UMKM melalui bantuan mesin kopi, penyediaan koneksi internet, serta bantuan tenda Sarmafil untuk mendukung aktivitas usaha masyarakat.

Sementara itu, pada aspek lingkungan dan layanan dasar, Ata Modo melaksanakan revitalisasi saluran air bersih, reboisasi tanaman rindang produktif, serta pembangunan dan pengelolaan Rumah Kelola Sampah sebagai bagian dari upaya penguatan ketahanan lingkungan masyarakat.

Pelaksanaan dan Dampak Program

Seluruh rangkaian Program TJSL Ata Modo Tahun 2024 dilaporkan telah terlaksana sesuai dengan indikator kinerja yang ditetapkan. Program ini menjangkau ratusan penerima manfaat di Pulau Komodo dan mencakup bidang pendidikan, ekonomi, sosial, serta lingkungan.

Berdasarkan analisis Social Return on Investment (SROI) dalam laporan program, pelaksanaan Ata Modo menunjukkan nilai manfaat sosial yang lebih besar dibandingkan dengan nilai investasi yang dikeluarkan. Hal ini mencerminkan efektivitas program dalam menghasilkan dampak sosial yang terukur.

Pendekatan Kolaboratif dan Berkelanjutan

Sebagai mitra pelaksana, Sinergi Indonesia menerapkan pendekatan perencanaan berbasis survei, pendampingan program, serta monitoring dan evaluasi untuk memastikan kualitas pelaksanaan dan keberlanjutan dampak program. Keterlibatan pemangku kepentingan lokal menjadi bagian penting dalam memastikan program berjalan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Pulau Komodo.

Program TJSL Ata Modo Pulau Komodo 2024 diharapkan dapat menjadi fondasi bagi pengembangan program keberlanjutan di masa mendatang, sekaligus menjadi contoh praktik kolaborasi TJSL BUMN dalam mendukung pembangunan sosial yang terintegrasi.

Program ini mencerminkan pendekatan Sinergi Indonesia dalam merancang dan mengimplementasikan program CSR dan TJSL berbasis kebutuhan lokal serta keberlanjutan jangka panjang.

PELNI Hadirkan Rumah Kelola Sampah di Bali

PELNI Hadirkan Rumah Kelola Sampah di Bali

PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT Pelni (Persero) meluncurkan Rumah Kelola Sampah (RKS) keempat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di Denpasar, Bali.

Dilansir dari situs beritatrans.com, kehadiran RKS diresmikan oleh Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Pelni Anik Hidayati bersama Sekretaris Kecamatan Denpasar Selatan Ni Komang Pendawati dan didampingi oleh Ketua RKS I Wayan Parna di Denpasar, Bali, Sabtu (18/2/2023).

Anik Hidayati menyampaikan bahwa program RKS Pelni Denpasar merupakan upaya Perseroan untuk membangun program TJSL yang memiliki nilai tambah demi mendukung kesuksesan pelaksanaan program pembangunan berkelanjutan (SDGs). Program ini sejalan dengan SDGs nomor 12 yaitu konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

“Pada seluruh kegiatan operasional, kami berkomitmen untuk ikut serta mendukung pembangunan berkelanjutan yang kami wujudkan melalui program-program TJSL seperti rumah kelola sampah ini,” tutur Anik.

Kota Denpasar dipilih sebagai kota keempat program RKS ini karena berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Bali, Provinsi Bali merupakan penghasil sampah terbesar ke-8 di Indonesia dengan menghasilkan 915,5 ribu ton sampah sepanjang tahun 2021 lalu.

“Semoga kehadiran BUMN melalui program RKS ini mampu mengurangi jumlah timbunan sampah di Bali serta menjadikan Bali lebih bersih dan sehat,” terangnya.

Sebanyak 4 kapal penumpang milik PT PELNI singgah dan sandar di Pelabuhan Benoa Denpasar Bali, yaitu KM Tilongkabila, KM Awu, KM Binaiya dan KM Leuser. Rata-rata sampah yang dihasilkan oleh kapal PELNI dalam satu hari sebanyak 2,5 ton.

“Dalam sebulan RKS Pelni Denpasar bisa mengurangi sampah sebanyak 75 ton per bulan baik itu sampah dari kapal Pelni maupun sampah rumah tangga,” terang Anik.

Fasilitas Rumah Kelola Sampah Pelni Denpasar

RKS Pelni Denpasar dilengkapi dengan fasilitas pengelolaan sampah, antara lain mesin pencacah sampah organik, mesin press sampah, dan motor roda tiga pengangkut sampah. Masyarakat binaan RKS Pelni Denpasar memanfaatkan fasilitas tersebut untuk menghasilkan output bernilai jual seperti produk kompos, produk pelet pakan untuk unggas, tanaman sayur dengan media tanam kompos hasil olahan serta handicraft seperti pot bunga dan tas.

“Kami berharap RKS Pelni Denpasar ini bisa menghadirkan lingkungan yang sehat, nyaman, bersih dan bisa menciptakan kemandirian masyarakat melalui pemanfaatan pengolahan sampah menjadi barang bernilai jual,” pungkas Anik.

Pelni sebagai Perusahaan Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang jasa pelayaran saat ini mengoperasikan 26 Kapal Penumpang yang melayani 1.058 ruas dan menyinggahi 76 pelabuhan. Selain angkutan penumpang, Pelni juga melayani 42 trayek Kapal Perintis yang menjadi sarana aksesibilitas bagi mobilitas penduduk di wilayah 3TP, di mana Kapal Perintis menyinggahi 273 pelabuhan dengan total 3.495 ruas.

Pelni juga mengoperasikan sebanyak 16 Kapal Rede. Untuk pelayanan bisnis logistik, saat ini Pelni mengoperasikan 10 trayek Tol Laut serta 1 trayek khusus untuk Kapal Ternak.

Selama sekitar 2 tahun ke depan, Sinergi Indonesia sebagai mitra yang ditunjuk PT PELNI (Persero) untuk mengembangkan Rumah Kelola Sampah Pelni Denpasar akan mengembangkan program ini. Diharapkan, sampah-sampah dari kapal Pelni diolah, didaur ulang, hingga dijadikan produk bernilai jual yang turut meningkatkan perekonomian bagi warga sekitar.

Strategi Integrated Farming (Pertanian Terpadu) pada Program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL)

Strategi Integrated Farming (Pertanian Terpadu) pada Program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL)

Dalam upaya memelihara lingkungan dan mengadopsi praktik berkelanjutan, Sinergi Indonesia berupaya menunjukkan komitmen melalui praktik pertanian terpadu (integrated farming).

Ini merupakan bagian dari usaha kami untuk menjaga lingkungan, termasuk perubahan iklim dan keberlanjutan ekosistem. Kami berupaya menghadirkan konsep pertanian yang sekaligus melindungi ekosistem yang ada.

Pengertian Integrated Farming (Pertanian Terpadu)

Integrated Farming, atau yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Pertanian Terpadu, adalah suatu pendekatan pertanian yang mengintegrasikan berbagai komponen pertanian, seperti tanaman, hewan ternak, perikanan, dan praktik pertanian lainnya, menjadi satu sistem yang saling mendukung dan berkelanjutan.

Tujuannya adalah menciptakan kesinambungan antara berbagai aspek pertanian dan lingkungan sekitarnya.

Dalam sistem integrated farming, elemen-elemen pertanian yang berbeda saling berinteraksi dan memberikan manfaat satu sama lain. Misalnya, limbah organik dari hewan ternak dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk tanaman, sementara tanaman dapat memberikan makanan dan tempat perlindungan bagi hewan ternak.

Dengan mengintegrasikan berbagai komponen tersebut, sistem ini dapat mengoptimalkan hasil pertanian, mengurangi limbah, dan meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Pola pertanian terpadu juga mendukung pengurangan penggunaan bahan kimia berbahaya dan mendorong penerapan praktik pertanian yang lebih berkelanjutan. Integrated farming dapat membantu petani mendiversifikasi sumber pendapatan, mengurangi risiko yang terkait dengan fluktuasi pasar atau perubahan cuaca, serta menjaga keseimbangan ekosistem pertanian secara keseluruhan.

Dalam konteks pertanian berkelanjutan, integrated farming menjadi solusi untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Integrated Farming dalam Perspektif Program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL)

Dalam perspektif Program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL), Integrated Farming atau Pertanian Terpadu mengambil peran penting sebagai pendekatan yang mendukung tujuan keberlanjutan serta dampak positif terhadap lingkungan dan masyarakat.

Adapun dalam konteks TJSL, Integrated Farming adalah suatu strategi yang diadopsi untuk menggabungkan aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi dalam kegiatan pertanian.

Program TJSL perlu menerapkan sistem pertanian karena memiliki potensi besar untuk mencapai tujuan tanggung jawab sosial lingkungan yang diemban oleh program tersebut.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa Integrated Farming menjadi relevan dan penting dalam konteks program TJSL:

Keberlanjutan Lingkungan

Integrated Farming merupakan pendekatan pertanian yang berfokus pada penggunaan yang lebih efisien dan berkelanjutan terhadap sumber daya alam, seperti air dan tanah. Dengan menggabungkan berbagai komponen pertanian, program TJSL dapat berkontribusi pada pelestarian lingkungan dan mengurangi dampak negatif terhadap ekosistem.

Diversifikasi Sumber Pendapatan

Integrated Farming memungkinkan petani untuk mengembangkan berbagai sumber pendapatan dari berbagai aspek pertanian, seperti tanaman, hewan ternak, dan perikanan. Dalam konteks TJSL, pendekatan ini dapat membantu masyarakat pedesaan mengurangi risiko finansial dan meningkatkan kesejahteraan melalui pendapatan yang beragam.

Kesejahteraan Masyarakat

Dengan menggabungkan komponen sosial dan ekonomi, Integrated Farming dalam program TJSL dapat memberdayakan masyarakat lokal. Pendekatan ini tidak hanya menciptakan lapangan kerja tambahan tetapi juga membantu membangun kemandirian ekonomi dan mengurangi tingkat kemiskinan.

Keanekaragaman Pangan

Integrated Farming memungkinkan produksi beragam jenis tanaman dan hewan, yang pada gilirannya dapat mendukung keanekaragaman pangan lokal dan mengurangi ketergantungan pada bahan pangan tertentu.

Edukasi dan Penyuluhan

Program TJSL yang mengusung sistem pertanian terpadu memberikan kesempatan untuk memberikan edukasi dan penyuluhan kepada petani tentang praktik pertanian berkelanjutan. Hal ini dapat membantu meningkatkan pemahaman petani tentang pentingnya menjaga lingkungan dan menerapkan praktik yang ramah lingkungan.

Dampak Jangka Panjang

Dengan menerapkan pola pertanian ini, program TJSL dapat menciptakan dampak positif jangka panjang dalam hal lingkungan, keberlanjutan pertanian, dan kesejahteraan masyarakat. Ini sejalan dengan tujuan utama program TJSL untuk memberikan kontribusi yang berkelanjutan terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

Strategi Integrated Farming dalam Program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL)

Strategi Integrated Farming dalam Program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) mengacu pada pendekatan yang terpadu untuk mengembangkan pertanian yang berkelanjutan dan berdampak positif terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Berikut adalah beberapa strategi kunci yang dapat diimplementasikan dalam kerangka program TJSL:

Pelatihan dan Penyuluhan

Program TJSL dapat memberikan pelatihan dan penyuluhan kepada petani dan masyarakat terkait praktik-praktik Integrated Farming. Ini meliputi aspek teknis seperti zonasi lahan, rotasi tanaman, pengelolaan limbah organik, serta penerapan pola tanam yang beragam. Pelatihan juga mencakup pendekatan berkelanjutan dalam pemilihan varietas tanaman dan pengelolaan ternak.

Pengembangan Model Pertanian Terpadu

Program TJSL dapat mengembangkan model pertanian terpadu yang menjadi contoh bagi masyarakat sekitar. Ini melibatkan pengintegrasian tanaman, hewan ternak, dan perikanan dalam suatu sistem yang seimbang dan saling mendukung. Model ini dapat diterapkan sebagai “pilot project” yang menunjukkan manfaat ekonomi dan lingkungan yang dapat dicapai.

Dukungan Teknis dan Teknologi

Program TJSL dapat menyediakan dukungan teknis dalam bentuk bimbingan teknis, konsultasi, dan akses terhadap teknologi terkini. Teknologi seperti aplikasi pemantauan pertanian, penggunaan pupuk organik, dan pengelolaan air yang efisien dapat mendukung penerapan Integrated Farming.

Kemitraan dan Kolaborasi

TJSL dapat bekerja sama dengan lembaga pertanian, universitas, dan lembaga penelitian untuk mendapatkan pandangan ahli dalam pengembangan Integrated Farming. Kemitraan ini dapat memberikan akses ke pengetahuan terbaru dalam bidang pertanian berkelanjutan.

Pengenalan dan Penyebarluasan Praktik Terbaik

Melalui berbagai kegiatan komunikasi, seperti workshop, seminar, dan acara pameran pertanian, program TJSL dapat menyebarkan praktik terbaik dalam Integrated Farming kepada petani dan masyarakat luas. Ini membantu meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang manfaat praktik pertanian terpadu.

Pemantauan dan Evaluasi

Program TJSL perlu melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap implementasi Integrated Farming. Ini melibatkan pengukuran hasil pertanian, kualitas lingkungan, serta dampak sosial dan ekonomi yang dihasilkan oleh praktik pertanian terpadu.

Pola Kemitraan Sinergi Indonesia dengan AirNav Indonesia pada Program TJSL Berbasis Integrated Farming

Pola kemitraan strategis yang akan dibangun antara Sinergi Indonesia dengan AirNav Indonesia, dalam kerangka Program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) berbasis Integrated Farming akan memiliki fokus pada kolaborasi yang saling menguntungkan dan berdampak positif, seperti:

Pengelolaan Lahan dan Sumber Daya

Sinergi Indonesia dan AirNav Indonesia akan bekerja sama dalam mengidentifikasi dan memanfaatkan lahan yang merupakan fasilitas AirNav. Sinergi Indonesia akan memberikan pengetahuan dan bimbingan teknis dalam mengimplementasikan pertanian terpadu pada lahan tersebut, sementara AirNav akan menyediakan lahan dan mendukung proses pengelolaannya.

Penanganan Limbah Organik

Sinergi Indonesia akan memberikan solusi untuk mengelola limbah organik ini menjadi kompos atau pupuk organik yang dapat digunakan dalam pertanian terpadu. Kegiatan ini akan mendukung pengurangan limbah dan penggunaan bahan kimia dalam pertanian.

Pelatihan dan Kapasitas

Sinergi Indonesia akan menyelenggarakan pelatihan dan penyuluhan bagi petani lokal dengan dukungan teknis dari AirNav Indonesia. Pelatihan ini akan memberikan wawasan tentang praktik Integrated Farming, manfaatnya, dan teknik implementasinya. AirNav Indonesia akan mendukung dengan menghadirkan ahli dan sumber daya manusia untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Teknologi dan Inovasi

AirNav Indonesia, sebagai BUMN dengan akses ke teknologi terkini, akan mendukung penggunaan teknologi dalam implementasi pertanian terpadu. Ini termasuk penggunaan sensor lingkungan, otomatisasi, dan sistem pemantauan. Sinergi Indonesia akan membantu mengintegrasikan teknologi ini ke dalam sistem pertanian terpadu.

Pengembangan Model Terbaik

Sinergi Indonesia dan AirNav Indonesia akan mengembangkan model pertanian terpadu yang efektif dan berkelanjutan. Model ini dapat dijadikan contoh bagi petani lokal dan masyarakat sekitar untuk menerapkan praktik yang serupa. Pola kemitraan ini akan mendukung penyebarluasan praktik terbaik dalam integrated farming.

Simpulan

Sinergi Indonesia berupaya mengembangkan strategi pertanian terpadu untuk mengembangkan program berbasis lingkungan yang berpotensi memberikan dampak positif bagi Indonesia yang lebih baik.

Program pertanian terpadu yang berkelanjutan, akan memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat. Langkah-langkah konkrit seperti pengelolaan lahan yang bijaksana, pengelolaan limbah organik, pelatihan petani, dan penerapan teknologi canggih, telah menciptakan pondasi untuk solusi yang lebih lestari membawa Indonesia menuju kemajuan yang berkelanjutan serta harmoni antara manusia dan alam.

3 Strategi Kunci Penerapan Creating Shared Value (CSV)

3 Strategi Kunci Penerapan Creating Shared Value (CSV)

Istilah Corporate Social Responsibility (CSR) tentu tidak asing lagi di telinga para pengusaha. Khusus di BUMN, program ini biasanya disebut dengan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Baik CSR maupun TJSL, keduanya merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat luas.

Namun, para pakar merasa bahwa CSR perlu didefinisikan ulang. Isu sosial tidak boleh lagi berseberangan dengan aktivitas perusahaan. Sebaliknya, operasional bisnis harus  pula mengembangkan hubungan mendalam dengan kesejahteraan sosial.

Karena itu, berkembanglah teori Creating Shared Value (CSV).

Konsep ini diperkenalkan pertama kali oleh Michael Porter dan Mark Kramer pada 2016 dalam artikel bertajuk ‘Harvard Business Review’. CSV kemudian dibahas kembali dalam artikel ‘Creating Shared Value’ pada 2011

Dalam artikel tersebut, keduanya mendefinisikan CSV sebagai kebijakan dan praktik yang meningkatkan daya saing perusahaan sekaligus kondisi masyarakat di lokasi perusahaan beroperasi. Kegiatan tersebut berfokus pada upaya mengidentifikasi, mengintegrasikan, serta memperluas hubungan sosial dan ekonomi.

Untuk mengimplementasikan CSV secara optimal, perusahaan setidaknya perlu menjalankan 3 strategi kunci. Berikut ulasannya!

1. Reconceiving Product and Market

Melalui langkah ini, perusahaan dapat memusatkan perhatian pada pemenuhan kebutuhan yang mudah diakses oleh seluruh elemen masyarakat. Contohnya, membuat inovasi produk yang bisa dijangkau oleh masyarakat ekonomi menengah ke bawah, tetapi tetap menghasilkan profit pula.

Di samping itu, perusahaan secara rutin perlu menganalisis apakah produk maupun layanan yang selama ini ditawarkan benar-benar bermanfaat, bernilai, dan dibutuhkan oleh mayoritas masyarakat.

2. Redefining Productivity in Value Chain

Perusahaan perlu bertanya, apakah bisnisnya secara simultan dapat meningkatkan produktivitas serta kemampuan sosial, lingkungan, dan ekonomi dari segi value chain.

Produktivitas dapat ditingkatkan dengan meminimalkan risiko serta memitigasi persoalan sosial maupun kondisi eksternal. Upaya mendongkrak produktivitas ini tentu melibatkan seluruh pihak. Mulai dari sumber daya, pemasok, dan karyawan.

3. Local Cluster Development

Menciptakan inovasi sekaligus mendorong produktivitas di segala sektor pastinya sulit diwujudkan sendiri. Perusahaan juga bergantung pada faktor eksternal, seperti lokasi bisnisnya, keberadaan supplier, penyedia jasa, serta infrastruktur logistik.

Atas dasar itulah, perusahaan semestinya mengembangkan klaster industri pendukung di sekitar lokasi. Porter dan Kramer juga meminta perusahaan untuk memperbaiki lingkungan eksternal, berinvestasi dalam kesejahteraan masyarakat, dan memperkuat ekonomi warga setempat.

***

CSV Dorong Kemandirian

Laba yang diperoleh perusahaan sembari melibatkan masyarakat dengan perusahaan yang mengabaikan dimensi sosial tentulah berbeda.

Perusahaan yang menerapkan CSV bukan hanya meningatkan nilai-nilai kompetitif usaha, melainkan secara bersamaan mendorong kemandirian masyarakat secara berkelanjutan.

Kehadiran konsep CSV diharapkan dapat memberantas kemiskinan dan kelaparan, meningkatkan kesehatan, menjamin daya dukung lingkungan hidup, serta meningkatkan kemitraan global untuk pembangunan.