Perkembangan praktik keberlanjutan di Indonesia terus mengalami perubahan. Perusahaan tidak lagi hanya dituntut menjalankan program sosial dan lingkungan, tetapi juga perlu memastikan aktivitas tersebut selaras dengan arah pembangunan berkelanjutan.
Salah satu perkembangan penting pada 2026 adalah penerbitan Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) Versi 3 oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). TKBI menjadi salah satu acuan untuk mengklasifikasikan aktivitas ekonomi berdasarkan kontribusinya terhadap tujuan keberlanjutan. (OJK)
Perkembangan ini menjadi penting bagi perusahaan yang sedang memperkuat strategi Environmental, Social, and Governance (ESG). Program CSR dan TJSL juga dapat diarahkan agar tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan.
Apa Itu TKBI Versi 3?
Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia atau TKBI merupakan kerangka klasifikasi aktivitas ekonomi yang dapat digunakan untuk mendukung pembiayaan dan investasi berkelanjutan di Indonesia.
OJK menerbitkan TKBI Versi 3 pada 2026 sebagai kelanjutan dari versi sebelumnya. Versi ini memperluas cakupan sektor yang dapat dinilai berdasarkan kriteria keberlanjutan.
TKBI dikembangkan untuk membantu meningkatkan alokasi modal dan pembiayaan berkelanjutan. Kerangka tersebut juga dirancang agar dapat digunakan oleh berbagai skala pengguna, termasuk korporasi dan UMKM.
Dengan perkembangan tersebut, perusahaan perlu mulai memahami bagaimana aktivitas bisnis dan program keberlanjutannya dapat dikaitkan dengan arah pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Apa yang Baru dalam TKBI Versi 3?
TKBI Versi 3 memperluas technical screening criteria atau kriteria teknis untuk sejumlah sektor.
Cakupan tersebut meliputi sektor Agriculture, Forestry, and Fishing, manufaktur, serta Water Supply, Sewerage, Waste Management, and Remediation. TKBI Versi 3 juga mencakup beberapa enabling sectors, seperti Information & Communication serta Professional, Scientific & Technical Activities. (OJK)
Perluasan tersebut menunjukkan bahwa isu keberlanjutan semakin berkaitan dengan berbagai aktivitas ekonomi.
Artinya, perusahaan tidak hanya perlu memperhatikan program lingkungan secara terpisah. Perusahaan juga perlu melihat hubungan antara kegiatan operasional, dampak sosial, pengelolaan lingkungan, dan strategi bisnis.
Mengapa TKBI Relevan dengan ESG?
ESG membantu perusahaan melihat keberlanjutan melalui tiga aspek utama, yaitu lingkungan, sosial, dan tata kelola.
TKBI dapat menjadi salah satu referensi dalam memperkuat aspek lingkungan dan keberlanjutan dalam strategi perusahaan. Misalnya, perusahaan yang menjalankan program pengelolaan sampah dapat melihat bagaimana kegiatan tersebut berkaitan dengan sektor pengelolaan limbah dan tujuan lingkungan.
Begitu juga dengan program pemberdayaan masyarakat. Perusahaan dapat menghubungkan kegiatan pemberdayaan dengan penguatan ekonomi lokal, peningkatan kapasitas masyarakat, dan penciptaan manfaat jangka panjang.
Dengan pendekatan tersebut, program CSR dan TJSL tidak hanya menjadi kegiatan sosial. Program dapat menjadi bagian dari strategi keberlanjutan yang lebih terarah.
Dampaknya bagi Program CSR dan TJSL
Perkembangan TKBI memberikan sinyal bahwa perusahaan perlu semakin serius dalam merancang program yang memiliki hubungan dengan tujuan keberlanjutan.
Program CSR dan TJSL dapat diarahkan untuk mendukung beberapa kebutuhan strategis, seperti:
- Pengelolaan lingkungan dan sumber daya.
- Pemberdayaan ekonomi masyarakat.
- Pengembangan UMKM.
- Pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular.
- Peningkatan kapasitas masyarakat.
- Penguatan ketahanan sosial dan ekonomi.
- Dukungan terhadap transisi menuju kegiatan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Namun, perusahaan tetap perlu membedakan antara program CSR/TJSL dengan klasifikasi aktivitas ekonomi dalam TKBI. TKBI bukan pengganti kerangka perencanaan CSR atau TJSL. Sebaliknya, TKBI dapat menjadi salah satu referensi dalam melihat konteks keberlanjutan yang lebih luas.
Program CSR Tidak Cukup Hanya Berdasarkan Aktivitas
Perkembangan ESG juga membuat perusahaan perlu mengubah cara melihat keberhasilan program.
Program tidak cukup hanya dicatat berdasarkan jumlah kegiatan, jumlah peserta, atau jumlah bantuan yang diberikan. Perusahaan perlu mengetahui perubahan yang dihasilkan oleh program.
Misalnya, program pemberdayaan UMKM tidak hanya dilihat dari jumlah pelatihan yang dilakukan. Perusahaan dapat melihat perubahan kapasitas pelaku usaha, peningkatan akses pasar, pertumbuhan pendapatan, atau kemampuan kelompok usaha untuk menjalankan kegiatan secara mandiri.
Pendekatan berbasis dampak seperti ini sejalan dengan kebutuhan perusahaan untuk menghasilkan informasi keberlanjutan yang lebih terukur. Sinergi Indonesia juga sebelumnya membahas pentingnya indikator dampak sosial dalam mengukur perubahan yang dihasilkan program CSR dan TJSL. (Sinergi Indonesia)
Dari Program Sosial Menuju Strategi Keberlanjutan
Perkembangan TKBI Versi 3 menunjukkan bahwa agenda keberlanjutan semakin terintegrasi dengan aktivitas ekonomi.
Karena itu, perusahaan perlu mulai melihat program CSR dan TJSL dalam perspektif yang lebih luas. Program sosial tidak hanya menjadi bentuk kepedulian kepada masyarakat, tetapi juga dapat mendukung strategi perusahaan dalam menciptakan nilai jangka panjang.
Proses tersebut dapat dimulai dengan memahami kondisi masyarakat dan potensi wilayah. Selanjutnya, perusahaan dapat menentukan prioritas program, menyusun indikator keberhasilan, melakukan monitoring, serta mengukur dampak yang dihasilkan.
Pendekatan tersebut membantu perusahaan membangun program yang lebih terarah dan memiliki hubungan yang jelas antara input, aktivitas, output, outcome, dan dampak.
Apa yang Perlu Disiapkan Perusahaan?
Menghadapi perkembangan agenda keberlanjutan pada 2026, perusahaan dapat mulai melakukan beberapa langkah.
Pertama, memahami arah keberlanjutan perusahaan.
Perusahaan perlu mengetahui isu ESG yang paling relevan dengan sektor bisnis dan wilayah operasionalnya.
Kedua, memetakan kebutuhan masyarakat.
Social mapping dan need assessment dapat digunakan untuk memahami masalah, potensi, serta kebutuhan penerima manfaat.
Ketiga, menentukan program prioritas.
Program perlu memiliki tujuan yang jelas dan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta strategi keberlanjutan perusahaan.
Keempat, menetapkan indikator dampak.
Indikator membantu perusahaan mengetahui perubahan yang terjadi setelah program dilaksanakan.
Kelima, melakukan monitoring dan evaluasi.
Data hasil monitoring dapat digunakan untuk memperbaiki pelaksanaan program sekaligus menjadi dasar dalam mengukur keberhasilan.
Keenam, mengintegrasikan hasil program ke dalam strategi keberlanjutan.
Dengan cara ini, CSR dan TJSL tidak berjalan sebagai kegiatan yang terpisah dari agenda ESG perusahaan.
TKBI dan Arah Program Keberlanjutan ke Depan
TKBI Versi 3 merupakan salah satu perkembangan penting dalam ekosistem keuangan berkelanjutan Indonesia pada 2026. OJK menyebutkan bahwa versi ini memperluas kriteria teknis dan menyelesaikan pengembangan klasifikasi untuk sektor-sektor yang berkaitan dengan target Nationally Determined Contribution (NDC) serta beberapa sektor pendukung.
Bagi perusahaan, perkembangan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat integrasi antara strategi bisnis, ESG, CSR, dan TJSL.
Program yang dirancang berdasarkan data, kebutuhan masyarakat, potensi lokal, serta indikator dampak akan lebih mudah diarahkan untuk menghasilkan manfaat yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, keberlanjutan bukan hanya tentang menjalankan lebih banyak program. Yang lebih penting adalah memastikan setiap program memiliki tujuan yang jelas, memberikan perubahan bagi masyarakat, serta mendukung arah keberlanjutan perusahaan.
PT Sinergi Inta Waana dapat mendampingi perusahaan dalam mengembangkan program CSR dan TJSL melalui Social Mapping, Need Assessment, penyusunan Roadmap TJSL, perencanaan program, monitoring dan evaluasi, Sustainability Reporting, hingga pengukuran dampak sosial.





